Pagi itu udara sangat segar. Tanah basah,
sisa hujan tadi malam. Matahari bersinar dengan sedikit redup. Sepasang tikus
kesturi masih tidur di sarangnya. Mereka tinggal di tumpukan kayu di sudut
rumah Pak Tani. Rupanya kekenyangan karena habis makan sisa makanan yang
dibuang ke tempat sampah.
Di serambi rumah Pak Tani terikat seekor
domba putih yang sejak tadi berteriak-teriak terus. Rupanya Pak Tani
tergesa-gesa pergi dan lupa memberi makan si domba putih. Tikus kesturi yang
sejak tadi memperhatikan domba putih yang sebentar-sebentar berteriak, akhirnya
tak tega juga. Sepasang tikus itu menggeliat. Kaki depannya diusap-usapkan ke
mukanya, sambil berdiri dengan kedua kakinya. Kumisnya bergerak-gerak, lalu
mendekati domba putih yang sedang kelaparan.
“Kamu lapar, Ya?” tanyanya lemah lembut.
“Heeh, aku lapar sekali. Kawan Kesturi, tolong aku.
Bawakan rumput itu kemari!” Domba putih mengangguk-angguk ke arah keranjang
yang penuh rumput segar itu.
“Mana mungkin, tubuhku terlalu kecil, kawan.” Tikus
itu pun berpikir sejenak. Dia berdiri dengan kedua kakinya lagi. Lalu memanjat
tiang tempat domba itu diikat.
“Kamu, sih, suka menyulitkan Pak Tani.”
Si domba putih tersinggung dikatakan menyulitkan Pak Tani.
Dia tidak merasa bersalah dengan siapa
pun, termasuk kepada Pak Tani.
“Ah, kau. Lapar sedikit saja sudah teriak-teriak. Kamu
juga tamak. Walaupun Pak Tani sudah memberimu makan kenyang, tetap saja kamu merusak
tanaman Pak Tani.”
“Tanaman Pak Tani lebih enak dan gurih dari pada
rumput. Pak tani itu pelit, tidak pernah memberikan sebagian padaku.” Si domba
putih tetap saja membela diri.
“Yah … beginilah akibatnya. Kau diikat dan kelaparan.”
“Kau sendiri bagaimana? Apa tidak pernah mencuri
makanan Mbok Tani?” tanyanya.
“Tentu saja tidak, kawan. Walaupun makanan melimpah di
meja makan, aku cukup makan apa yang terjatuh ke lantai.”
Tikus kesturi lari ke sana kemari di dekat domba putih yang kelaparan.
“Cit,cit,cit,cit. alangkah segarnya hari ini,” sambil
mengeluarkan bau busuknya.
“Kau sendiri … selalu saja mengeluarkan bau busuk.“
“Inilah kelebihanku. Karena aku tak pernah mencuri
makanan manusia, aku diberi senjata dengan bau ini, oleh Allah,” jawabnya
bangga.
“Senjata apa?”
“Tak ada kucing yang berani makan diriku. Paham?”
“Tolong aku sahabat, pikirkan cara apa, supaya aku
bisa makan,” pinta domba putih.
Tikus kesturi sedikit termenung. ada sesuatu yang
sedang dipikirnya. Tak lama kemudian, tikus itu berdiri dengan kedua kakinya
diangkat tinggi-tinggi.
“Baiklah, tetapi kau harus berjanji bahwa kau tak akan
makan tanaman Pak Tani lagi.”
Akhirnya kedua tikus itu mengerat tali yang mengikat
domba putih itu. Sulit juga untuk memutus tali itu, karena terbuat dari
plastik. Kedua tikus itu mengerahkan tenaganya. “Iiiiihhhh, hhhhh, hos hos
hos.” Dan akhirnya bisa terputus. Tikus itu telentang di dekat domba putih.
Setelah mengucakan terima kasih, domba itu makan
rumput yang ada di keranjang tak jauh dari tempat dia diikat. Dia menuruti
nasihat tikus kesturi sahabatnya. Dia berjanji tidak akan makan tanaman yang
menjadi makanan Pak Tani.
Sepulang dari bepergian, Pak Tani kaget, domba putih
terlepas talinya. Dia periksa tanaman sayurnya di belakang rumah, di samping
rumah. Semuanya aman. Domba putih tidak makan tanaman sayurnya.
Domba putih dibelai-belai bulunya. “Ternyata kau domba
yang baik. Mulai sekarang kau tak kuikat lagi.”
“Terima kasih
nasihatmu sahabatku, tikus kesturi.”
Dari jauh tikus kesturi memperhatikan domba putih yang
telah dinasihatinya. Dia tersenyum lega. Semua nasihatnya dipatuhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar