Rabu, 08 April 2015

TIKUS KESTURI DAN DOMBA PITIH



Pagi itu udara sangat segar. Tanah basah, sisa hujan tadi malam. Matahari bersinar dengan sedikit redup. Sepasang tikus kesturi masih tidur di sarangnya. Mereka tinggal di tumpukan kayu di sudut rumah Pak Tani. Rupanya kekenyangan karena habis makan sisa makanan yang dibuang ke tempat sampah.
Di serambi rumah Pak Tani terikat seekor domba putih yang sejak tadi berteriak-teriak terus. Rupanya Pak Tani tergesa-gesa pergi dan lupa memberi makan si domba putih. Tikus kesturi yang sejak tadi memperhatikan domba putih yang sebentar-sebentar berteriak, akhirnya tak tega juga. Sepasang tikus itu menggeliat. Kaki depannya diusap-usapkan ke mukanya, sambil berdiri dengan kedua kakinya. Kumisnya bergerak-gerak, lalu mendekati domba putih yang sedang kelaparan. 
“Kamu lapar, Ya?” tanyanya lemah lembut.
“Heeh, aku lapar sekali. Kawan Kesturi, tolong aku. Bawakan rumput itu kemari!” Domba putih mengangguk-angguk ke arah keranjang yang penuh rumput segar itu.
“Mana mungkin, tubuhku terlalu kecil, kawan.” Tikus itu pun berpikir sejenak. Dia berdiri dengan kedua kakinya lagi. Lalu memanjat tiang tempat  domba itu diikat.
“Kamu, sih, suka menyulitkan Pak Tani.”
Si domba putih tersinggung dikatakan menyulitkan Pak Tani. Dia tidak merasa bersalah dengan  siapa pun, termasuk  kepada Pak Tani.
“Ah, kau. Lapar sedikit saja sudah teriak-teriak. Kamu juga tamak. Walaupun Pak Tani sudah memberimu makan kenyang, tetap saja kamu merusak tanaman Pak Tani.”
“Tanaman Pak Tani lebih enak dan gurih dari pada rumput. Pak tani itu pelit, tidak pernah memberikan sebagian padaku.” Si domba putih tetap saja membela diri.
“Yah … beginilah akibatnya. Kau diikat dan kelaparan.”
“Kau sendiri bagaimana? Apa tidak pernah mencuri makanan Mbok Tani?” tanyanya.
“Tentu saja tidak, kawan. Walaupun makanan melimpah di meja makan, aku cukup makan apa yang terjatuh ke lantai.”
Tikus kesturi lari ke sana kemari di dekat domba putih yang kelaparan.
“Cit,cit,cit,cit. alangkah segarnya hari ini,” sambil mengeluarkan bau busuknya.
“Kau sendiri … selalu saja mengeluarkan bau busuk.“
“Inilah kelebihanku. Karena aku tak pernah mencuri makanan manusia, aku diberi senjata dengan bau ini, oleh Allah,” jawabnya bangga.
“Senjata apa?”
“Tak ada kucing yang berani makan diriku. Paham?”
“Tolong aku sahabat, pikirkan cara apa, supaya aku bisa makan,” pinta domba putih.
Tikus kesturi sedikit termenung. ada sesuatu yang sedang dipikirnya. Tak lama kemudian, tikus itu berdiri dengan kedua kakinya diangkat tinggi-tinggi.
“Baiklah, tetapi kau harus berjanji bahwa kau tak akan makan tanaman Pak Tani lagi.”
Akhirnya kedua tikus itu mengerat tali yang mengikat domba putih itu. Sulit juga untuk memutus tali itu, karena terbuat dari plastik. Kedua tikus itu mengerahkan tenaganya. “Iiiiihhhh, hhhhh, hos hos hos.” Dan akhirnya bisa terputus. Tikus itu telentang di dekat domba putih.  
Setelah mengucakan terima kasih, domba itu makan rumput yang ada di keranjang tak jauh dari tempat dia diikat. Dia menuruti nasihat tikus kesturi sahabatnya. Dia berjanji tidak akan makan tanaman yang menjadi makanan Pak Tani.
Sepulang dari bepergian, Pak Tani kaget, domba putih terlepas talinya. Dia periksa tanaman sayurnya di belakang rumah, di samping rumah. Semuanya aman. Domba putih tidak makan tanaman sayurnya.
Domba putih dibelai-belai bulunya. “Ternyata kau domba yang baik. Mulai sekarang kau tak kuikat lagi.”
  “Terima kasih nasihatmu sahabatku, tikus kesturi.”
Dari jauh tikus kesturi memperhatikan domba putih yang telah dinasihatinya. Dia tersenyum lega. Semua nasihatnya dipatuhi.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar