Rabu, 08 April 2015

KUCING HUTAN SANG JUARA



Raja Burhan Syah sangat sedih karena persediaan makanan di gudang istana diserang tikus.   Pasukan tikus telah  memporakporandakan persediaan makanan. Beras, gandum, jagung, dan makanan lain banyak dimakan tikus. Prajurit penjaga gudang persediaan makanan tak bisa berbuat banyak. Setiap malam selalu ada yang bahan makanan yang berkurang. Sebenarnya setiap sudut gudang sudah diperiksa, tetapi tidak ada tanda-tanda jejak tikus.
Para prajurit dikerahkan untuk membasmi tikus sampai perbatasan kota. Ribuan tikus sudah dibunuh, tetapi yang datang semakin banyak, dan bahan makanan yang tersimpan  semakin menipis.
Bahkan seluruh rakyat di negeri Antapura itu pun resah, karena persediaan makanan mereka juga sudah mulai dimakan tikus. Anehnya, tak seorang pun yang bisa memberantas tikus-tikus itu, karena datang dan perginya tidak pernah ada yang tahu.  
Pernah suatu hari, semua rakyatnya dikumpulkan di depan istana. Mereka diajak berdoa bersama untuk memohon kepada Tuhan agar dosa-dosa mereka diampuni dan terhindar dari cobaan. Mereka berdoa pula agar ada yang bisa memberantas tikus yang telah menghabiskan persediaan makanan mereka.Tikus-tikus yang merajalela, merupakan cobaan yang berat. Setiap malam baginda pun selalu berdoa bersama permaisuri.
Suatu pagi baginda memanggil penasihat kerajaan untuk memberikan nasihatnya.
“Apa pendapatmu, penasihat?” tanya Baginda Raja Burhan Syah.
“Ampun Tuanku. Bagaimana kalau diadakan sayembara?”
Raja Burhan Syah  langsung setuju. Hari berikutnya diadakan sayembara untuk memberantas tikus. Gong kerajaan dibunyikan, pengumuman pun dikumandangkan. Di mana-mana tertempel pengumuman tersebut. Siapa yang berhasil membasmi tikus-tikus jahat itu, akan diangkat menjadi pendamping putri baginda, Putri Mayang Puspa.
Sudah berpuluh-puluh orang yang mengikuti sayembara, namun tak ada seorang pun yang bisa menumpas tikus-tikus itu.
 Hari-hari pun berlalu. Raja Burhan Syah semakin sedih. Penasihat tidak punya saran lagi. Yang terpikirkan adalah nasib rakyatnya, yang akan dilanda kemiskinan.
Tak ada yang tahu bahwa kabar tentang sayembara pemberantasan tikus itu terdengar pula oleh kucing hutan dan harimau kumbang. Mereka berebut untuk mengikuti sayembara.
“Aku mau ikut sayembara. Akan kumakan satu persatu tikus itu,” memandang kucing hutan, “Kau tak usah ikut, pasti kalah.”
“Kita buktikan saja. Mari kita menghadap baginda putri dulu,” kata kucing hutan.
Mereka berdua memasuki “kaputren”. Tuan putri sedang duduk ditemani para dayang. Hati tuan putri sangat sedih mengetahui keadaan rakyatnya yang segera kehabisan bahan makanan.
“Tuan Putri kami ingin mengikuti sayembara.” Mereka bersmpuh di hadapan  Putri Mayang Puspa. Kucing hutan dan harimau kumbang menggerak-gerakkan ekornya.
Tanpa menunda waktu kucing hutan dan harimau kumbang dihadapkan kepada Baginda Raja Burhan Syah.
“Ayahanda, ada yang mau mengikuti sayembara. Apakah boleh menghadap?”
Setelah para peserta sayembara masuk balai sidang,  Baginda Raja agak kaget, tetapi tak ditampakkan.. Raja Burhan Syah terdiam. Semua yang hadir di persidangan terpaku. Semua tidak mengira bahwa yang ikut sayembara dua ekor binatang. Tetapi raja Burhan Syah adalah raja  yang bijaksana, sehingga tidak gegabah untuk  mengambil keputusan.
“Bagaimana pendapatmu penasihat?”
“Diterima saja Baginda. Serahkan pada hamba untuk mengaturnya,” sembahnya.
Penasihat dan para peserta sayembara masuk balai pertemuan darurat. Kedua binatang itu duduk di lantai. Penasihat kerajaan mengatur sayembara. Masing-masing hanya mendapat kesempatan semalam saja untuk membasmi tikus. Kedua peserta sayembara mengangguk, tanda setuju.
Putri Mayang Puspa ikut meyaksikan sayembara. Tuan Putri ragu-ragu, apakah mereka bisa memberantas tikus.
 “Baiklah, siapa yang lebih dahulu?” tanya  penasihat dengan lantang.
“ Saya, Tuan,” jawab mereka serempak.
“ Saya yang harus lebih dahulu Tuan Penasihat, karena saya yang tahu lebih dahulu, sayembara ini,”  kata singa membela kebenaran.
“Baiklah. Nanti malam yang mendapat giliran membasmi tikus adalah harimau kumbang,” kata penasihat kerajaan.
Malam harinya, harimau kumbang langsung menuju ke sarang tikus, yang telah diketahui sebelumnya. Sarang tikus itu berada tak jauh dari gudang persediaan makanan. Tempatnya sangat tersembunyi.
“ Hrrrr…. Hai, raja tikus, keluarlah bersama anak buahmu! Akan kumakan kalian satu persatu, karena kalian telah menghabiskan persediaan makanan kerajaan Antapura.” Kukunya digaruk-garukkan di pohon tumbang itu.
Beberapa tikus mengintip dari balik lubang. Lalu berteriak, “Ayo masuk saja kawan. Masuklah ke sarang  kami!” Mereka tetap berada di dalam sarang, di bawah pohon tumbang yang sangat besar itu.
“ Keluar …, cepat keluar. Aku diperintah baginda raja Burhan Syah untuk menangkap kalian, Hrrrr …hrrrr ….”
  Ah, yang benar … hi hi hi hi ….” Beberapa tikus mengejeknya.
Harimau kumbang sangat marah. Didorongnya pohon tumbang itu sekuat tenaga, tetapi bergerak pun tidak. Dia cium-cium batang itu. Dia tahu di dalamnya terdapat tikus yang sangat banyak. Suaranya riuh sekali, dan seperti ada yang lari ke sana kemari. Suaranya berisik sekali. Cit cit cit cit. crrrt crrrt cit cit.
Harimau duduk di dekat pohon tumbang itu, menunggu tikus itu keluar. Tetapi tak seekor tikus pun yang mau keluar.
Malam sudah menjelang pagi. Ayam jantan telah berkokok. Burung-burung berkicau di pohon.
“Hrrrr …, suatu saat kalian akan kumakan sampai habis,” lalu pergi.
Semalaman persediaan makanan tak berkurang. Para penjaga gudang lapor kepada baginda raja bahwa gudang makanan aman. Persediaan makanan masih utuh. Mereka mengira harimau sudah berhasil membasmi tikus. Siang harinya diadakan acara khusus menyambut harimau. yang telah berhasil membasmi tikus.
Tiba-tiba harimau datang. Semua bersorak gembira.
“Selamat datang harimau cerdas. Selamat datang,” teriak mereka.
Bruggg, srrrret. Harimau duduk dengan lunglai. Kepalanya diletakkan di lantai. Matanya dipejamkan. Nafasnya tak beraturan.
“Tuanku, saya tidak berhasil membasmi tikus. Mohon diampuni.”
“Haaaa?“ Baginda terkejut.
“Masukkan harimau ke kandang di samping istana. Jangan diberi makan!” Memandang penjaga gudang makanan, “ Dan  penjaga gudang makanan, masukkan ke penjara.” Baginda sangat marah.
“Tuanku ….” sembah penasihat.
Sebelum penasihat memberikan saran, baginda langsung masuk ke dalam istana. Hatinya sangat kecewa dan sedih.
Malam berikutnya, kucing hutan mendapat giliran, karena harimau kumbang tidak berhasil membasmi tikus. Dia melompat kegirangan.  Dia berlari menuju sarang tikus. Dia tahu  bahwa harimau kumbang dan penjaga gudang makanan dihukum raja. Semalaman dia mengikuti gerak-gerik harimau yang berusaha membasmi tikus.
Dia bersiul-siul. “suiiit, suiiiit, Hai, kawan-kawan, mari kita bermain. Lihatlah  bulan dan bintang menerangi bumi. Mari kita  menikmati malam yang indah ini!”
“ Apa Paman akan   menangkap kami?”  Seekor anak tikus keluar dari sarang.
  Ah, tidak, tidak, kawan kecil. Makananku bukan lagi tikus, tetapi makanan lain yang lebih bergizi. Panggil kawan-kawanmu, kita bermain bersama.”
Kucing hutan duduk di atas pohon tumbang itu. Dia menggeliat. Oahhhem. Lidahnya dijulurkan ke depan sepanjang-panjangnya. Dia memanjangkan tubuhnya, lalu melompat ke samping pohon tumbang itu.
“ Horeeee.” Tiba-tiba beratus-ratus tikus menghambur mengelilingi kucing hutan, yang selama ini mereka takuti. Mereka menari-nari  sambil meloncat ke kiri dan ke kanan sepuas hati. Beberapa anak tikus berteriak-teriak kegirangan. “Cit, cit, cit….”
Akhirnya mereka pun beristirahat sambil bergulingan di rerumputan.
“Hai, kawan,  mengapa kalian habiskan persediaan makanan  kerajaan Antapura? Apakah raja yang bijaksana itu pernah menggangu kalian?” tanya kucing hutan.
“ Baginda Raja tidak, tetapi prajurit kerajaan telah membakar sarang kami,” jawab raja tikus sedih. “Sekarang kami tidak punya sarang yang nyaman.”
“ Hmmm … saya bisa memahami. Saya  ikut berduka,” kata kucing hutan.
Semua terdiam. Suasana menjadi hening. Kucing hutan berpikir mencari pemecahan. Dia mondar-mandir ke sana kemari. Sebentar-sebentar memandang ke langit, seakan mencari pertolongan Tuhan. Setelah agak lama, kucing pun berbicara.
“ Begini saja, kalau kalian setuju, pindahlah ke sarang saya. Di sana tempatnya luas dan dekat dengan tumbuhan umbi-umbian liar yang sangat banyak. Kalian bisa makan setiap hari sepuas-puasnya, dan jangan lagi mencuri makanan di gudang kerajaan, ” bujuk kucing hutan.
“Oh, Ya? Mau-mau. Terima kasih. Bagaimana kawan-kawan?” Raja tikus berdiri.
“Setujuuuu!” tikus-tikus itu berlompatan dan lari ke sana kemari.
Setelah menunjukkan sarangnya, kucing hutan bergegas menuju kerajaan Antapura.
“ Yang Mulia, tikus-tikus pengganggu, sudah dapat hamba singkirkan.” Kucing  memberikan laporan.
“Benarkah?” Raja tersenyum lega. “Ceritakan bagaimana engkau membasminya! Bagaimana tikus-tikus itu bisa masuk gudang  makanan tanpa diketahui penjaga.?”
“Mereka membuat lubang di bawah tanah, Tuanku. Mereka masuk  gudang persediaan makanan  melalui  tiang penyangga.” Semua diceritakan dari awal sampai akhir.
Akhirnya kucing hutan tinggal di istana menemani putri Mayang Puspa. Pada hari itu juga, gudang makanan dibongkar. Wadah persediaan makanan yang terbuat dari kayu, diganti dengan besi. Gudang makanan diperbaiki.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar