Raja Burhan Syah sangat sedih karena persediaan
makanan di gudang istana diserang tikus.
Pasukan tikus telah memporakporandakan persediaan makanan. Beras,
gandum, jagung, dan makanan lain banyak dimakan tikus. Prajurit penjaga gudang persediaan
makanan tak bisa berbuat banyak. Setiap malam selalu ada yang bahan makanan
yang berkurang. Sebenarnya setiap sudut gudang sudah diperiksa, tetapi tidak
ada tanda-tanda jejak tikus.
Para prajurit dikerahkan untuk membasmi
tikus sampai perbatasan kota.
Ribuan tikus sudah dibunuh, tetapi yang datang semakin banyak, dan bahan
makanan yang tersimpan semakin menipis.
Bahkan seluruh rakyat di negeri Antapura
itu pun resah, karena persediaan makanan mereka juga sudah mulai dimakan tikus.
Anehnya, tak seorang pun yang bisa memberantas tikus-tikus itu, karena datang
dan perginya tidak pernah ada yang tahu.
Pernah suatu hari, semua rakyatnya
dikumpulkan di depan istana. Mereka diajak berdoa bersama untuk memohon kepada
Tuhan agar dosa-dosa mereka diampuni dan terhindar dari cobaan. Mereka berdoa
pula agar ada yang bisa memberantas tikus yang telah menghabiskan persediaan
makanan mereka.Tikus-tikus yang merajalela, merupakan cobaan yang berat. Setiap
malam baginda pun selalu berdoa bersama permaisuri.
Suatu pagi baginda memanggil penasihat
kerajaan untuk memberikan nasihatnya.
“Apa pendapatmu, penasihat?” tanya Baginda
Raja Burhan Syah.
“Ampun Tuanku. Bagaimana kalau diadakan
sayembara?”
Raja Burhan Syah langsung setuju. Hari berikutnya diadakan
sayembara untuk memberantas tikus. Gong kerajaan dibunyikan, pengumuman pun
dikumandangkan. Di mana-mana tertempel pengumuman tersebut. Siapa yang berhasil
membasmi tikus-tikus jahat itu, akan diangkat menjadi pendamping putri baginda,
Putri Mayang Puspa.
Sudah berpuluh-puluh orang yang mengikuti
sayembara, namun tak ada seorang pun yang bisa menumpas tikus-tikus itu.
Hari-hari pun berlalu. Raja Burhan Syah
semakin sedih. Penasihat tidak punya saran lagi. Yang terpikirkan adalah nasib
rakyatnya, yang akan dilanda kemiskinan.
Tak ada yang tahu bahwa kabar tentang
sayembara pemberantasan tikus itu terdengar pula oleh kucing hutan dan harimau
kumbang. Mereka berebut untuk mengikuti sayembara.
“Aku mau ikut sayembara. Akan kumakan satu persatu
tikus itu,” memandang kucing hutan, “Kau tak usah ikut, pasti kalah.”
“Kita buktikan saja. Mari kita menghadap
baginda putri dulu,” kata kucing hutan.
Mereka berdua memasuki “kaputren”. Tuan
putri sedang duduk ditemani para dayang. Hati tuan putri sangat sedih
mengetahui keadaan rakyatnya yang segera kehabisan bahan makanan.
“Tuan Putri kami ingin mengikuti
sayembara.” Mereka bersmpuh di hadapan
Putri Mayang Puspa. Kucing hutan dan harimau kumbang menggerak-gerakkan
ekornya.
Tanpa menunda waktu kucing hutan dan harimau
kumbang dihadapkan kepada Baginda Raja Burhan Syah.
“Ayahanda, ada yang mau mengikuti
sayembara. Apakah boleh menghadap?”
Setelah para peserta sayembara masuk
balai sidang, Baginda Raja agak kaget,
tetapi tak ditampakkan.. Raja Burhan Syah terdiam. Semua yang hadir di
persidangan terpaku. Semua tidak mengira bahwa yang ikut sayembara dua ekor
binatang. Tetapi raja Burhan Syah adalah raja
yang bijaksana, sehingga tidak gegabah untuk mengambil keputusan.
“Bagaimana pendapatmu penasihat?”
“Diterima saja Baginda. Serahkan pada
hamba untuk mengaturnya,” sembahnya.
Penasihat dan para peserta sayembara masuk
balai pertemuan darurat. Kedua binatang itu duduk di lantai. Penasihat kerajaan
mengatur sayembara. Masing-masing hanya mendapat kesempatan semalam saja untuk
membasmi tikus. Kedua peserta sayembara mengangguk, tanda setuju.
Putri Mayang Puspa ikut meyaksikan sayembara.
Tuan Putri ragu-ragu, apakah mereka bisa memberantas tikus.
“Baiklah,
siapa yang lebih dahulu?” tanya
penasihat dengan lantang.
“ Saya, Tuan,” jawab mereka serempak.
“ Saya yang harus lebih dahulu Tuan
Penasihat, karena saya yang tahu lebih dahulu, sayembara ini,” kata singa membela kebenaran.
“Baiklah. Nanti malam yang mendapat
giliran membasmi tikus adalah harimau kumbang,” kata penasihat kerajaan.
Malam harinya, harimau kumbang langsung
menuju ke sarang tikus, yang telah diketahui sebelumnya. Sarang tikus itu
berada tak jauh dari gudang persediaan makanan. Tempatnya sangat tersembunyi.
“ Hrrrr…. Hai, raja tikus, keluarlah
bersama anak buahmu! Akan kumakan kalian satu persatu, karena kalian telah
menghabiskan persediaan makanan kerajaan Antapura.” Kukunya digaruk-garukkan di
pohon tumbang itu.
Beberapa tikus mengintip dari balik lubang. Lalu berteriak,
“Ayo masuk saja kawan. Masuklah ke sarang kami!” Mereka tetap berada di dalam sarang, di
bawah pohon tumbang yang sangat besar itu.
“ Keluar …, cepat keluar. Aku diperintah baginda raja Burhan
Syah untuk menangkap kalian, Hrrrr …hrrrr ….”
“ Ah, yang benar … hi
hi hi hi ….” Beberapa tikus mengejeknya.
Harimau kumbang sangat marah. Didorongnya
pohon tumbang itu sekuat tenaga, tetapi bergerak pun tidak. Dia cium-cium
batang itu. Dia tahu di dalamnya terdapat tikus yang sangat banyak. Suaranya
riuh sekali, dan seperti ada yang lari ke sana
kemari. Suaranya berisik sekali. Cit cit cit cit. crrrt crrrt cit cit.
Harimau duduk di dekat pohon tumbang itu,
menunggu tikus itu keluar. Tetapi tak seekor tikus pun yang mau keluar.
Malam sudah menjelang pagi. Ayam jantan telah
berkokok. Burung-burung berkicau di pohon.
“Hrrrr …, suatu saat kalian akan kumakan
sampai habis,” lalu pergi.
Semalaman persediaan makanan tak berkurang. Para
penjaga gudang lapor kepada baginda raja bahwa gudang makanan aman. Persediaan
makanan masih utuh. Mereka mengira harimau sudah berhasil membasmi tikus. Siang
harinya diadakan acara khusus menyambut harimau. yang telah berhasil membasmi
tikus.
Tiba-tiba harimau datang. Semua bersorak gembira.
“Selamat datang harimau cerdas. Selamat datang,” teriak
mereka.
Bruggg, srrrret. Harimau duduk dengan lunglai. Kepalanya
diletakkan di lantai. Matanya dipejamkan. Nafasnya tak beraturan.
“Tuanku, saya tidak berhasil membasmi tikus. Mohon diampuni.”
“Haaaa?“ Baginda terkejut.
“Masukkan harimau ke kandang di samping istana. Jangan diberi
makan!” Memandang penjaga gudang makanan, “ Dan penjaga gudang makanan, masukkan ke penjara.” Baginda
sangat marah.
“Tuanku ….” sembah penasihat.
Sebelum penasihat memberikan saran, baginda langsung masuk ke
dalam istana. Hatinya sangat kecewa dan sedih.
Malam berikutnya, kucing hutan mendapat
giliran, karena harimau kumbang tidak berhasil membasmi tikus. Dia melompat
kegirangan. Dia berlari menuju sarang
tikus. Dia tahu bahwa harimau kumbang
dan penjaga gudang makanan dihukum raja. Semalaman dia mengikuti gerak-gerik
harimau yang berusaha membasmi tikus.
Dia bersiul-siul. “suiiit, suiiiit, Hai, kawan-kawan, mari
kita bermain. Lihatlah bulan dan bintang
menerangi bumi. Mari kita menikmati
malam yang indah ini!”
“ Apa Paman akan
menangkap kami?” Seekor anak
tikus keluar dari sarang.
“ Ah, tidak, tidak,
kawan kecil. Makananku bukan lagi tikus, tetapi makanan lain yang lebih
bergizi. Panggil kawan-kawanmu, kita bermain bersama.”
Kucing hutan duduk di atas pohon tumbang itu. Dia menggeliat.
Oahhhem. Lidahnya dijulurkan ke depan sepanjang-panjangnya. Dia memanjangkan
tubuhnya, lalu melompat ke samping pohon tumbang itu.
“ Horeeee.” Tiba-tiba beratus-ratus tikus menghambur
mengelilingi kucing hutan, yang selama ini mereka takuti. Mereka
menari-nari sambil meloncat ke kiri dan
ke kanan sepuas hati. Beberapa anak tikus berteriak-teriak kegirangan. “Cit,
cit, cit….”
Akhirnya mereka pun beristirahat sambil bergulingan di
rerumputan.
“Hai, kawan, mengapa
kalian habiskan persediaan makanan
kerajaan Antapura? Apakah raja yang bijaksana itu pernah menggangu
kalian?” tanya kucing hutan.
“ Baginda Raja tidak, tetapi prajurit kerajaan telah membakar
sarang kami,” jawab raja tikus sedih. “Sekarang kami tidak punya sarang yang
nyaman.”
“ Hmmm … saya bisa memahami. Saya ikut berduka,” kata kucing hutan.
Semua terdiam. Suasana menjadi hening. Kucing hutan berpikir
mencari pemecahan. Dia mondar-mandir ke sana
kemari. Sebentar-sebentar memandang ke langit, seakan mencari pertolongan
Tuhan. Setelah agak lama, kucing pun berbicara.
“ Begini saja, kalau kalian setuju, pindahlah ke sarang saya.
Di sana
tempatnya luas dan dekat dengan tumbuhan umbi-umbian liar yang sangat banyak.
Kalian bisa makan setiap hari sepuas-puasnya, dan jangan lagi mencuri makanan
di gudang kerajaan, ” bujuk kucing hutan.
“Oh, Ya? Mau-mau. Terima kasih. Bagaimana kawan-kawan?” Raja
tikus berdiri.
“Setujuuuu!” tikus-tikus itu berlompatan dan lari ke sana kemari.
Setelah menunjukkan sarangnya, kucing hutan bergegas menuju
kerajaan Antapura.
“ Yang Mulia, tikus-tikus pengganggu, sudah dapat hamba
singkirkan.” Kucing memberikan laporan.
“Benarkah?” Raja tersenyum lega.
“Ceritakan bagaimana engkau membasminya! Bagaimana tikus-tikus itu bisa masuk
gudang makanan tanpa diketahui
penjaga.?”
“Mereka membuat lubang di bawah tanah, Tuanku. Mereka
masuk gudang persediaan makanan melalui tiang penyangga.” Semua diceritakan dari awal
sampai akhir.
Akhirnya kucing hutan tinggal di istana menemani putri Mayang
Puspa. Pada hari itu juga, gudang makanan dibongkar. Wadah persediaan makanan
yang terbuat dari kayu, diganti dengan besi. Gudang makanan diperbaiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar