Rabu, 08 April 2015

BURUNG TEKUKUR SAHABAT RIO



Pagi itu sangat cerah. Rio duduk di bangku yang terletak di bawah pohon rambutan. Sebentar-sebentar menengadah ke atas. Dia lihat  ada sarang burung dengan dua ekor anaknya yang mencicit. Mungkin anak burung itu lapar, pikir Rio. Induknya ke mana ya, pikirnya lagi. Mengapa anaknya ditinggal, kan kasihan sekali. Uhhh, induk yang tak bertanggung jawab.
Ooooo, ternyata induknya ada di ranting  dekat sarang. Rupanya dia membawa makanan untuk anaknya. Makanya ribut, rung…burung.
“Kalau sedang makan jangan ribut begitu, bisa tersedak, lho.” Rio bicara sendiri. Kalau nggak mau diam, awas,… tak ketapel kalian. Dia acung-acungkan ketapelnya. “Hei… diam! Uuuh… berisik!” Rio berkacak pinggang. Ketapelnya dikalungkan di lehernya.
Tiba-tiba …   Brrr…plak, plek plekkk klepek.
“Ibuuuuu, anak burungnya jatuh dari sarang,” Rio masuk ke dapur.
“Kamu ketapel, ya?” melihat ketapel yang tergantung di leher Rio.
“Nggak, ah. Aku Cuma nakuti doang. Cuma ngancam-ngancam.”
Mereka  duduk di bangku, memeriksa anak burung itu. Rio membelai bulu anak burung  yang halus, mengusap kepalanya sampai ke paruhnya. Burung itu tenang. Matanya kadang tertutup kadang terbuka. Tubuhnya bergetar.
“Kasihan anak burung ini. Lihat nih, kakinya terluka.”
Ibunya mengambil telur, dipecahkan dan diambil putihnya. Dibalurkannya putih telur itu pada kaki anak burung  yang terluka.
“Ambil kain kasa di lemari obat, dan gunting di rak mesin jahit, Rio!”
Kaki anak burung itu dibalut dengan kain kasa. Tubuh anak burung itu masih menggigil, sambil membuka-buka mulutnya.  
Burung kecil yang malang itu  mereka  masukkan ke dalam sangkar. Di dalamnya diberi kertas tisu untuk alasnya.  Dengan tangga aluminum ibunya menggantung sangkar itu di cabang pohon yang terletaknya di bawah sarang. Untunglah ibu Rio biasa panjat-memanjat.
“Mengapa digantung di situ, Bu?” tanya Rio.
“Biar dekat dengan induknya, dan tidak dimakan kucing.” Mereka  duduk kembali di bangku dekat dapur.
Tak lama kemudian induk burung itu mendekati sangkar. Anaknya membuka mulut sambil mencicit-cicit. Tubuhnya bergetar. Induk burung memasukkan makanan ke dalam mulut anaknya. Kemudian kolk kolk glek glek kolk kolk. Makanan ditelan anak burung dengan susah payah. Membuka lagi mulutnya sambil mencicit lagi.
Rio mengamati induk burung yang sedang memberi makan anaknya. Ia berdiri melihat dari sisi yang lain. Tidak ada yang  tahu apa yang sedang dipikirknnya. Ibunya ikut bangkit dan mendekatinya.
“Bu..., tentu induknya sangat lelah mencarikan makanan untuk anaknya.”
“Ya, untuk mendapatkan makanan mungkin harus pergi sangat jauh.”
Rio mengangguk. Ia duduk lagi di bangku. Makan siang pun duduk di situ. Bahkan setelah mandi sore Rio duduk di bangku itu lagi untuk melihat anak burung.
“Bagaimana kalau kita sediakan makanan untuk induknya?” tanya ibunya menyelidik.
“Setuju ….” Jawab Rio.
Pagi harinya bermacam-macam kacang-kacangan, beras pulut, padi, disediakan di dekat sangkar. Wadahnya diletakkan di atas tumpukan batu merah di bawah pohon rambutan itu. Kira-kira pukul  09.00 induk burung itu mendekati makanan yang  disediakan. Mukanya tengak-tengok, seperti ada yang dicari. Ah, bukan. Dia meyakinkan aman apa tidak.
“Lihatlah! induk burung mau makan, makanan yang kita sediakan,” bisik ibunya.
“ Sssssssst...Jangan keras-keras, Bu!” balas berbisik.
Mereka  berdua mendekati induk burung pelan-pelan. Mereka ingin melihat makanan apa yang disukai burung itu. Rupanya burung itu  tahu bahwa  dirinya diamati.
“Sssssttt. Ia makan beras pulut,” kata mereka  bersamaan.
Pagi harinya pergi entah ke mana, dan selalu kembali.sekitar pukul 09.00 untuk memberi makan anaknya yang ada di sarang dan yang ada di sangkar..  Setelah itu makan makanan yang tersedia.
Beberapa hari kemudian anak burung itu sudah sehat kembali. Kakinya sudah sembuh.  Perbannya sudah dilepas oleh ibu Rio. Lihatlah si anak burung berlatih terbang di dalam sangkar.
Anak burung itu lucu dan manis. Bulunya abu-abu bercampur putih di dadanya, sama dengan warna bulu induknya. Paruhnya hitam.
Rio harus mau melepaskan burung itu, pikir ibunya. Sebenarnya ibunya  tak ingin  merusak kebahagiaan anaknya. Rio selalu  menyediakan makanan burung setiap pagi.
“Rio kau lihat betapa sayangnya induk burung itu?” menunjuk induk burung yang bertengger di dekat sarang.
“Ya, Bu. Anaknya juga sayang banget kepada induknya,”jawabnya.
“Tentu mereka lebih senang kalau setiap saat bisa bersamanya,” diam sejenak, “Bagaimana kalau kita lepas saja, agar selalu bersama induknya?” Ibunya melihat  reaksi anak kesayangannya itu.
Rio tidak menjawab, berdiri dan masuk ruang keluarga. Ibunya mengikuti dari belakang, tanpa sepengetahuannya. Ia nonton TV sambil membisu. Tidak seperti biasanya yang selalu ribut dan heboh dengan segala imajinasinya. Ibunya tak berani menanyai apa-apa. Mungkin usulnya  untuk melepaskan anak burung itu mempengaruhi perasaan anaknya.
Sore harinya, Rio tak mau makan. Ditawari kue yang dibawa bapaknya dari kantor pun tak mau. Rio tampak sedih sekali.
Malam harinya tubuhnya sangat panas. Ibunya mengompres keningnya dengan air dingin. “Kalau Rio tak setuju, tak dilepaskan juga tak apa-apa,” kata ibunya  pelan.
“Tapi kasihan, Bu,” membalikkan badan.
“Lalu bagaimana?” tanya bapaknya  setelah tahu duduk perkaranya.
Rio diam, tapi tampak berpikir, “Rio tidak tahu,” jawabnya ketus.
“Bagaimana kalau kita buka pintu sangkarnya, agar induknya bisa masuk?” usul ibunya hati-hati.
Pagi-pagi sekali mereka bertiga membuka pintu sangkar. Anak burung itu tak keluar. Kebetulan hari itu Minggu, sehingga bapak Rio bisa melihat kegiatan burung itu dari pagi sampai siang. Mereka  bertiga duduk di bangku.
Berrrrr, induk burung bertengger di tempat persediaan makanan. “Lihat dia akan memberi makan anaknya,”Rio berbisik kepada bapaknya.“Mereka suka beras pulut, Pak,” berbisik lagi.
Peristiwa indah itu hanya berlangsung tiga hari.  Burung itu sekarang tak ada lagi di dalam sangkar. Rio tampak lesu. Seharian duduk di bangku samping dapur, sambil melihat sangkar yang kosong.
“Biarkan mereka hidup di alam bebas. Si kecil juga ingin terbang tinggi seperti induknya. Ingin bernyanyi riang dengan kawan-kawannya,” bujuk ibunya.
Rio sangat sedih. Ia duduk termangu-mangu. Kedua tangannya menyangga dagunya.
Tiba-tiba ....
“Buuuuu, cepat ....” Rio berteriak kegirangan, sambil meloncat-loncat,“Mereka datang di tumpukan batu merah. Mereka makan beras pulut.”
“Nanti kita tambahkan makanannya. Agar kita bisa melihatnya setiap hari.”
“Kalau aku sekolah, Ibu yang memberi makan, ya!” 
Liburan kenaikan kelas telah berakhir. Besok Rio harus ke sekolah. Dia memasuki kelas barunya. Dilihatnya  tulisan di pintu kelas.  Kelas IV. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar