Pagi itu sangat cerah. Rio
duduk di bangku yang terletak di bawah pohon rambutan. Sebentar-sebentar
menengadah ke atas. Dia lihat ada sarang
burung dengan dua ekor anaknya yang mencicit. Mungkin anak burung itu lapar,
pikir Rio. Induknya ke mana ya, pikirnya lagi.
Mengapa anaknya ditinggal, kan
kasihan sekali. Uhhh, induk yang tak bertanggung jawab.
Ooooo, ternyata induknya ada di
ranting dekat sarang. Rupanya dia
membawa makanan untuk anaknya. Makanya ribut, rung…burung.
“Kalau sedang makan jangan ribut begitu,
bisa tersedak, lho.” Rio bicara sendiri. Kalau
nggak mau diam, awas,… tak ketapel kalian. Dia acung-acungkan ketapelnya. “Hei…
diam! Uuuh… berisik!” Rio berkacak pinggang.
Ketapelnya dikalungkan di lehernya.
Tiba-tiba … Brrr…plak,
plek plekkk klepek.
“Ibuuuuu, anak
burungnya jatuh dari sarang,” Rio masuk ke
dapur.
“Kamu ketapel,
ya?” melihat ketapel yang tergantung di leher Rio.
“Nggak, ah.
Aku Cuma nakuti doang. Cuma
ngancam-ngancam.”
Mereka duduk di bangku, memeriksa
anak burung itu. Rio membelai bulu anak
burung yang halus, mengusap kepalanya
sampai ke paruhnya. Burung itu tenang. Matanya kadang tertutup kadang terbuka.
Tubuhnya bergetar.
“Kasihan anak burung ini. Lihat nih, kakinya terluka.”
Ibunya mengambil telur, dipecahkan dan diambil putihnya. Dibalurkannya
putih telur itu pada kaki anak burung
yang terluka.
“Ambil kain kasa di lemari obat, dan gunting di rak mesin jahit, Rio!”
Kaki anak burung itu dibalut dengan kain kasa. Tubuh anak burung itu
masih menggigil, sambil membuka-buka mulutnya.
Burung kecil yang malang
itu mereka masukkan ke dalam sangkar. Di dalamnya diberi
kertas tisu untuk alasnya. Dengan tangga
aluminum ibunya menggantung sangkar itu di cabang pohon yang terletaknya di
bawah sarang. Untunglah ibu Rio biasa
panjat-memanjat.
“Mengapa digantung di situ, Bu?” tanya Rio.
“Biar dekat dengan induknya, dan tidak dimakan kucing.” Mereka duduk kembali di bangku dekat dapur.
Tak lama kemudian induk
burung itu mendekati sangkar. Anaknya membuka mulut sambil mencicit-cicit.
Tubuhnya bergetar. Induk
burung memasukkan makanan ke dalam mulut anaknya. Kemudian kolk kolk glek glek
kolk kolk. Makanan ditelan anak burung dengan susah payah. Membuka lagi mulutnya sambil
mencicit lagi.
Rio mengamati induk burung yang sedang
memberi makan anaknya. Ia berdiri melihat dari sisi yang lain. Tidak ada
yang tahu apa yang sedang dipikirknnya.
Ibunya ikut bangkit dan mendekatinya.
“Bu..., tentu induknya sangat lelah mencarikan makanan untuk anaknya.”
“Ya, untuk mendapatkan makanan mungkin harus pergi sangat jauh.”
Rio mengangguk. Ia duduk lagi di bangku.
Makan siang pun duduk di situ. Bahkan setelah mandi sore Rio
duduk di bangku itu lagi untuk melihat anak burung.
“Bagaimana kalau kita sediakan makanan untuk induknya?” tanya ibunya
menyelidik.
“Setuju ….” Jawab Rio.
Pagi harinya bermacam-macam kacang-kacangan, beras pulut, padi,
disediakan di dekat sangkar. Wadahnya diletakkan di atas tumpukan batu merah di
bawah pohon rambutan itu. Kira-kira pukul
09.00 induk burung itu mendekati makanan yang disediakan. Mukanya tengak-tengok, seperti ada
yang dicari. Ah, bukan. Dia meyakinkan aman apa tidak.
“Lihatlah! induk burung mau makan, makanan yang kita sediakan,” bisik
ibunya.
“ Sssssssst...Jangan keras-keras, Bu!” balas berbisik.
Mereka berdua mendekati induk
burung pelan-pelan. Mereka ingin melihat makanan apa yang disukai burung itu.
Rupanya burung itu tahu bahwa dirinya diamati.
“Sssssttt. Ia makan beras pulut,” kata mereka bersamaan.
Pagi harinya pergi entah ke mana, dan selalu kembali.sekitar pukul 09.00
untuk memberi makan anaknya yang ada di sarang dan yang ada di sangkar.. Setelah itu makan makanan yang tersedia.
Beberapa hari kemudian anak burung itu sudah sehat kembali. Kakinya sudah
sembuh. Perbannya sudah dilepas oleh ibu
Rio. Lihatlah si anak burung berlatih terbang
di dalam sangkar.
Anak burung itu lucu dan manis. Bulunya abu-abu bercampur putih di
dadanya, sama dengan warna bulu induknya. Paruhnya hitam.
Rio harus mau melepaskan burung itu,
pikir ibunya. Sebenarnya ibunya tak ingin merusak kebahagiaan anaknya. Rio selalu
menyediakan makanan burung setiap pagi.
“Rio kau lihat betapa sayangnya induk
burung itu?” menunjuk induk burung yang bertengger di dekat sarang.
“Ya, Bu. Anaknya juga sayang banget kepada induknya,”jawabnya.
“Tentu mereka lebih senang kalau setiap saat bisa bersamanya,” diam
sejenak, “Bagaimana kalau kita lepas saja, agar selalu bersama induknya?”
Ibunya melihat reaksi anak kesayangannya
itu.
Rio tidak menjawab, berdiri dan masuk
ruang keluarga. Ibunya mengikuti dari belakang, tanpa sepengetahuannya. Ia nonton
TV sambil membisu. Tidak seperti biasanya yang selalu ribut dan heboh dengan
segala imajinasinya. Ibunya tak berani menanyai apa-apa. Mungkin usulnya untuk melepaskan anak burung itu mempengaruhi
perasaan anaknya.
Sore harinya, Rio tak mau makan.
Ditawari kue yang dibawa bapaknya dari kantor pun tak mau. Rio
tampak sedih sekali.
Malam harinya tubuhnya sangat panas. Ibunya mengompres keningnya dengan
air dingin. “Kalau Rio tak setuju, tak dilepaskan juga tak apa-apa,” kata
ibunya pelan.
“Tapi kasihan, Bu,” membalikkan badan.
“Lalu bagaimana?” tanya bapaknya
setelah tahu duduk perkaranya.
Rio diam, tapi tampak berpikir, “Rio
tidak tahu,” jawabnya ketus.
“Bagaimana kalau kita buka pintu sangkarnya, agar induknya bisa masuk?” usul
ibunya hati-hati.
Pagi-pagi sekali mereka bertiga membuka pintu sangkar. Anak burung itu tak
keluar. Kebetulan hari itu Minggu, sehingga bapak Rio
bisa melihat kegiatan burung itu dari pagi sampai siang. Mereka bertiga duduk di bangku.
Berrrrr, induk burung bertengger di tempat persediaan makanan. “Lihat dia
akan memberi makan anaknya,”Rio berbisik kepada
bapaknya.“Mereka suka beras pulut, Pak,” berbisik lagi.
Peristiwa indah itu hanya berlangsung tiga hari. Burung itu sekarang tak ada lagi di dalam
sangkar. Rio tampak lesu. Seharian duduk di
bangku samping dapur, sambil melihat sangkar yang kosong.
“Biarkan mereka hidup di alam bebas. Si kecil juga ingin
terbang tinggi seperti induknya. Ingin bernyanyi riang dengan kawan-kawannya,”
bujuk ibunya.
Rio sangat sedih. Ia duduk
termangu-mangu. Kedua tangannya menyangga dagunya.
Tiba-tiba ....
“Buuuuu, cepat ....” Rio berteriak
kegirangan, sambil meloncat-loncat,“Mereka datang di tumpukan batu merah.
Mereka makan beras pulut.”
“Nanti kita tambahkan makanannya. Agar kita bisa melihatnya setiap hari.”
“Kalau aku sekolah, Ibu yang memberi makan, ya!”
Liburan kenaikan kelas telah berakhir. Besok Rio harus ke sekolah. Dia memasuki
kelas barunya. Dilihatnya tulisan di
pintu kelas. Kelas IV.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar