Akhir-akhir ini Novi
tampak berbeda dengan biasanya. Wajahnya tidak ceria seperti biasanya.
Teman-temannya tak berani bertanya, takut menyinggung perasaannya.
“ Teman-teman, keluargaku akhir-akhir ini aneh,” kata Novi
sedih.
“ Aneh bagaimana?” tanya Yulia,“ Siapa yang aneh? Ayahmu
atau ibumu?”
Lama sekali Novi
diam. Dia pandangi kedua temannya bergantian.
“ Begini teman, beberapa hari ini, ibuku
bertingkah laku berbeda dengan
biasanya.” sambil mengaduk-aduk bakso istimewa ala Mbok Bon.
Novi bercerita bahwa
ibunya selalu menempatkan minuman untuk ayahnya di rak piring bagian atas. Teh
manis ayahnya yang biasanya dia minum bersama adiknya itu sekarang berpindah
tempat.
“ Wah, kalau hanya begitu bukan
masalah, dong. Itu biasa, bukan aneh,” kata Mimi.
“ Iya, kalau hanya begitu mungkin tidak aneh. Tapi aku
pernah mendengar ibuku mengatakan begini, ‘Inilah minuman para dewa. Minuman ini
terbuat dari buah-buahan surga. Minumlah pangeran.’ Ibuku mengangkat cangkir yang biasa untuk minum teh
itu tinggi-tinggi, lalu mengulurkan minuman itu kepada ayahku, layaknya seorang
dukun.” Novi
memperagakan gerakan ibunya.
“ Haaaah,”
mulut Mimi dan Yulia ternganga. Mereka berdua saling memandang.
Dia ceritakan secara lengkap. Bagaimana ayahnya
memejamkan mata, lalu menelan cairan aneh itu. Setelah minum seperti kesurupan.
Dia peragakan saat ayahnya menyeringai,
matanya terkejab-kejab, dan uahhhh,uahhhh.ampuuuunn.
“Kalau begitu
gawat, Nov. Jangan-jangan ayah dan
ibumu penganut aliran sesat, seperti
yang sering ditayangkan di TV itu,” kata Mimi.
Mereka bertiga meninggalkan kantin Mbok Bon, menuju
kelasnya.
“ Hmm. Kita perlu membantu orang tua Novi
untuk melepaskan pengaruh jahat yang berbahaya itu.” usul Mimi.
“ Besok kan hari
Minggu, Doni kita ajak ke rumah Novi. Kita
minta Doni mencari akal untuk mengambil minuman berbahaya itu untuk kita
selidiki,” usul Yulia.
Semalam Novi gelisah. Tidurnya tidak tenang. Dalam
hatinya bertanya-tanya, apa mungkin ayah ibunya betul-betul mengikuti aliran
sesat seperti dugaan temannya.
“Tak mungkiiiin!” teriak Novi
sambil memukul-mukul bantalnya.
Ayah ibunya kaget, dan bergegas masuk ke kamar Novi.
“Ada
apa Nov?” tanya ibunya sambil meraba
keningnya, “Sakit, ya ?”
“Enggak. Novi nggak apa-apa. Lihat! Hmmmmm, kan?”
senyumnya dilebar-lebarkan.
Ayah ibunya tertawa melihat kelucuan anaknya.
Pagi harinya, Yulia, Mimi dan Doni datang. Mereka akan
mengadakan penyelidikan. Novi bertugas
mengawasi ibunya. Sambil membawa minuman, Novi
mengajak ibunya ke serambi menemui temannya. Novi
melihat minuman aneh itu berada di atas rak piring.
Doni sudah mengendap-endap di dekat dapur, hatinya
berdebar-debar. Begitu Novi dan ibunya
meninggalkan dapur, Doni langsung melaksanakan tugasnya sesuai petunjuk Novi. Dia sudah membawa plastik untuk menuang minuman
para dewa itu. Tentu saja tidak semua dituang, hanya sedikit saja untuk
penyelidikan.
Yang berada di
serambi sibuk bercanda dengan ibu dan ayah Novi,
sambil minum-minum dan makan singkong goreng.
“Hai, itu Doni kan?
Dari mana saja kau?” tanya ayah Novi.
“ Nggak, Omm,” sambil tergagap-gagap.
“ Ke sini!
makan kue sumbu!” ajak ibu Novi tanpa curiga.
“Benar juga, banyak yang aneh. Singkong saja disebut
kue sumbu,” gumam Yulia.
Orang tua Novi
meninggalkan mereka yang sedang
menikmati singkong goreng.
“ Berhasil tidak?” bisik mereka.
Doni mengangguk. “Nanti sore kita selidiki bersama,”
kata Doni. Telapak tangan mereka satukan lalu berseru, hampir berteriak karena
merasa sukses,“ Okey. Hi hi hi.”
Sore harinya mereka sudah berada di “gubug” belajar Desy.
Mereka berempat menghadapi sebuah cangkir berisi cairan keruh kehitaman. Baunya sangat menyengat.
“ Hiii,” seru
Mimi, “ Jadi cairan seperti ini yang diminum ayahmu, Nov?”
“ Ini gawat. Jangan hanya hiii gitu. Kita harus
mencari cara untuk menyelamatkan orang tua Novi
dari kepercayaan yang menyesatkan.” kata Doni serius. “ Nah, sekarang harus ada
yang berani mencicipi cairan ini.” kata Doni sambil berdiri.
“ Novi saja. Kan ayahnya minum juga
tak apa-apa,” usul Mimi.
“ Jangan aku. Doni saja, pahlawan kita, Mi,” jawab Novi.
Akhirnya Doni yang menjadi kelinci percobaan. Dia
ragu. Diangkatnya tinggi-tinggi gelas yang berisi cairan ajaib itu, lalu
diletakkan kembali, “ Gimana, ya. Aku takut, nih.”
“ Minum … minum … minum … minum ….” Kata yang lain
sambil bertepuk tangan. Akhirnya, glek, glek, glek. Dan … “ Oh, ampun, ampun,
ampun,” Doni berguling-guling di tikar sambil
menjulur-julurkan lidahnya, “ Pahit sekali. Tolong aku.”
Yulia berlari masuk dapur mengambil air minum. “Cepat
diminum!” Dia juga ikut ketakutan. Semua ketakutan.
Sekarang gimana? ” tanya Mimi. Mereka berempat
bersandar di dinding “gubuk”.
“ Biarlah aku yang bertanya kepada ibuku saja.
Peristiwa ini harus kita rahasiakan.” Kata Novi.
“Setidaknya sampai rahasia ini terungkap,” Doni mulai bisa angkat bicara.
Malam harinya Novi
tiduran di pangkuan ibunya sambil nonton
TV. Lalu berbisik di telinga ibunya,“ Minuman para dewa itu apa sih, Bu?”
‘ Ah. Apa sih? Tampaknya tidak ada,” jawab ibunya
sambil mengingat-ingat.
“ Tapi ibu pernah mengatakan begini, ‘inilah minuman para dewa, yang dibuat dari
buah-buahan surga.’ ”
“ Oh, anakku.” Ibunya memeluknya. “Ibu hanya
main-main, hanya bercanda, agar ayahmu mau minum dengan semangat. Dan nama obat
itu mahkota dewa. Ayahmu kan kena gelaja sakit
gula. Hmm, jadi kau dengar, ya?” Ibunya
tampak menahan tawa. “ Ibu bilang hanya sekali kan?”
“Iya, ibu sambil begini ….” memperagakan gerakan
ibunya yang pernah dilihatnya.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Novi memeluk ibunya erat-erat.
Novi sekarang tahu
bahwa tidak baik, nguping pembicaraan
orang lain. Teman-temannya pun tahu, bahwa tidak baik melibatkan diri dengan urusan orang lain.
Kapok, deh.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar, dan Alwasilah, Senny Suzanna. (2008). Pokoknya Menulis. Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan tenaga
Kependidikan Depdiknas Tahun 2008. Kiblat.
Lubis, Mochtar. Teknik Mengarang. PT
Nunang Jaya. Cetakan ke IV.
Sarumpaet, R.I. (1973). Rahasia Mendidik Anak. Bandung.
Indonesia
Publising House Box
85.
Poerwadarminta, W.J.S. (1979). ABC
Karang Mengarang. Yogya. UP Indonesia.
W.S.,Titik/Korrie Layun Rampan, Basino P.I, Titis/ Ismail Marahimin,
Sarumpaet,Riris K Toha/ Sumardi Fawzia Azwin Hadis. (2003). Teknik Mnulis Cerita Anak. Yogyakarta. PUSBUK.