Segerombolan kera sedang makan pagi. Buah-buahan segar bergantungan di
pohon. Mereka berceroceh dengan gembira. Cuitttt, cuittt. Mereka bergantungan
sambil makan buah. Lihatlah bayi-bayi kera yang lucu, menempel di tubuh
induknya. Yang agak besar dengan lincahnya bergantung ke sana ke mari. Kadang-kadang mereka bergantung
denga satu kakinya. Wah lucu sekali. Ha, ha, ha.
Tiba-tiba, dooorrr, dooorrr. Terdengan suara dahsyat dari tempat yang
jauh. Suara itu membuyarkan kerumunan kera yang sedang pesta. Semua kera lari
menyelamatkan diri, bersembunyi di tempat yang tidak mudah terlihat. Ada yang meringkuk,
direrimbunan daun, ada yang memanjat di pohon yang sangat tinggi.
Sayangnya ada seekor anak kera yang jatuh ke rawa. Tubuhnya basah kuyub.
Dengan susah payah anak kera itu naik ke batu besar yang ada di tengah rawa
itu. Kera kecil itu mmenggigil kedinginan.”Ciet, ciet. Ciet. “Mammmma ….”
Ksihan sekali. Induknya tak mendengarnya. Induknya telah lari jauh
menghindari bahaya. Sinar matahari pagi belum bisa menghangati tubuhnya yang
mungil dengan bulu yang lengket dengan tubuhnya.
Tak lama kemudian datang induk serigala dengan dua anaknya yang melintas
di dekat rawa.
“Mama lihatlah. Ada anak kera di sana. Tampaknya perlu
bantuan,” kata anak serigala.
“Oh, kasihan sekali,” sahut induk serigala.”Marilah aku bantu.”
Langsung mencebur ke rawa yang agak dalam itu, menjemput anak kera yang
kedinginan. Tangan kera kecil memeluk leher induk serigala. Dengan lidah
menjulur dan hah, hah, hahhh. Induk serigala menggendong anak kera. Dan happp.
Induk keran melompat ketepi rawa.
Dengan sigap kedua anak serigala menyambut teman barunya si kera kecil
sambil melompat-lompat. Mereka mengelilingi anak kera sambil mengibahngibaskan
ekornya yang kecil. Eerrr. Eerrr.
Mereka mulai menjilati tubuh kera kecil, sampai tubuh kera
tertongkang-tongkang, terseok-seok, dan terjungkal-jungkal.
“Cieh, cieh, cieh,” kera kecil merintih-rintih.
Mereka berbaring di rerumputan, bergulingan, saling mempermainkan ekor
saudaranya. Tak ketinggalan ekor kera kecil pun dipermainkan., sampai menjerit-jerit.
“Ciettt, ciettt. Jangan ganggu aku…”
“Masih kedinginan, anak manis?” tanya induk serigala.
“Tidak, Bibi.”
Mereka meninggalkan tempat itu.
Induk serigala menggendong anak kera.Mereka bercanda kembali.Anak kera
menengok ke kanan, menengok ke kiri, menyaksikan tingkah anak serigala yang
lucu itu.
“Haiiii,” teriak anak kera ketika anak serigala itu menyentuh ekornya.
Anak kera itu pun ikut bercanda. Ia tangkap ekor anak serigala ketika
menjulur di dekatnya.
“Kena.....” sambil tertawa.
“ Jangan, jangan.... tolong lepaskan....”
Anak serigala itu menyimpan ekornya di bawah perutnya, agar anak kera
tidak bisa menangkapnya. Kera kecil sudah mulai pulih dari ketakutannya, dan
sehat kembali. Kelincahannya mulai kelihatan. Dia tampak nakalnya. Dia melompat-lompat dari
punggung induk serigala ke anak serigala, lalu menggigit telinga anak serigala.
“Hap..., kena
lagi....”
“Mama, tolong....”
“ jangan saling mengganggu, anak-anak,” kata induk serigala dengan
lembut.
“Bibi Seri, aku mau naik ke sana.”
Tanpa menunggu jawaban, anak kera itu sudah melompat ke atas pohon. Dia memetik daun-daun muda dan
memakannya dengan lahap. Anak kera melompat dari dahan ke ranting,
merangkak-rangkak ke pucuknya, hap .... turun ke tanah dengan lincah. Rupanya
ia melatih otot-ototnya.
Keluarga serigala itu menyaksikan akrobatik yang indah itu dengan takjub.
Kera kecil lari sambil menangkap telinga serigala kecil, lalu menarik ekornya
Anak-anak serigala mengejarnya, dan dengan beberapa lompatan kera itu
sudah berada di atas pohon. Turun dengan cepat dan menarik ekor anak
serigala.
“Mama, Mama.....”
Mereka melanjutkan perjalanan. Tak henti-hentinya anak-anak itu saling
mengganggu.
Tiba-tiba .......
“Lihat, Ma! Banyak burung bangkai
terbang ke sana. Barang kali ada pesta.”
Induk serigala dan anak-anaknya menaikkan moncongnya, mencium udara.
Tanpa diperintah anak kera itu melompat ke atas pohon melihat berkeliling. Dari
ranting ke ranting melompat dengan dengan cepat menuju tempat burung-burung
bangkai terbang memutar-mutar di udara. Sambil tangannya berpegangan pada dahan
dia memanggil induk serigala.
” Di sana,
Bibi Seri...” menunjuk ke suatu arah.
Kera itu tidak lagi berjalan di bawah bersama serigala..Ia melompat dari
pohon ke pohon, seolah-olah sebagai penunjuk jalan.
“Berhentilah dulu. Aku akan melihat dari dekat”
Anak kera itu melihat seekor
harimau yang sedang makan daging dengan lahap. Ia melambaikan tangannya ke arah
serigala supaya mendekat. Ia memberi tahu bahwa
di sana
ada seekor harimau sedang makan daging. Keluarga serigala mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Kalian harus hati-hati,” katanya setelah kembali mendekati keluarga
serigala.
”Ada potongan daging di sana, ambil dan lari kencang. Aku akan bermain
dengan paman harimau,” sambil mondar-mandir.
“Baiiiik....” kata mereka serempak.
Anak kera segera meloncat ke atas pohon. Dia goyangkan ranting-ranting.
Lalu kedua kakinya dia gunakan untuk mencengkeram ranting lentur. Kepalanya menjulai ke bawah sambil makan
daun-danu muda. Dia bergoyang, berayun-ayun.
“Paman harimau aku di sini,”kata kera.
Harimau itu melihat ke atas sebentar. Mulutnya penuh daging segar.
Harimau makan dengan sangat nikmatnya.
Tanpa reaksi, harimau meneruskan makan kembali.
Hrrrr, hrrrr, krreeek, kreeek.
“Sombong amat, sih Paman, Bagi-bagi, dong ....” sambil turun dari pohon.
Anak kera itu mendekati harimau. Dia berjalan ke arah ekor dengan
berjingkat-jingkat lalu menyentuhnya,
ditarik-tarik. Plak… plak …. Ekor harimau bergerak-gerak.
“Ekor Paman bagus, seperti kipas putri raja.”
“Hrrr, hrrrr. Hai, kamu mau apa?”sambil menoleh, dan mengangkat
tinggi-tinggi ekornya.
Kera kecil melompat ke samping, “Paman harimau...sombong...sombong....”
Harimau berdiri akan menerkam anak kera, yang lari sambil melompat
ke kanan ke kiri dengan cepat.
“Tidak kena....tidak kena ....heee.”
Ketika hampir tersentuh cakarnya, kera kecil itu sudah melompat ke
pohon.Turun lagi, menyentuh ekor harimau saat harimau itu makan kembali, lari
lagi.
Akhirnya harimau itu geram juga, dan mengejarnya. Anak kera lari kencang
menjauh dari tempat tadi. Kemudian....
“Aku di sini.....yek,yek..” dan sudah bergantungan di pohon.
“Awas, kau kera nakal.” Meninggalkan anak kera yang tertawa-tawa di atas
pohon.
Dari atas pohon dia mencari induk serigala dan anak-anaknya. Tiba-tiba ia
melihat semak bergerak-gerak. Ia amati
dengan teliti, “Nnnnaah ....ketemu, kalian.”
Anak kera itu pun berbaring di samping
mereka yang sedang pesta daging. Setelah makan selesai ....
“Bibi, Seri. Tubuhku sudah cukup kuat. Aku akan mencari keluargaku,” katanya
sambil tersenyum.
“Selamat tinggal kawan, terima kasih semuanya.”
“Hati-hati..... dan selamat jalan,” kata mereka,
sambil mengibas-ngibaskan ekornya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar