Rabu, 08 April 2015

MINUMAN PARA DEWA



Akhir-akhir ini Novi tampak berbeda dengan biasanya. Wajahnya tidak ceria seperti biasanya. Teman-temannya tak berani bertanya, takut menyinggung perasaannya.
“ Teman-teman, keluargaku  akhir-akhir ini aneh,”  kata Novi sedih.
“ Aneh bagaimana?” tanya Yulia,“ Siapa yang aneh? Ayahmu atau ibumu?”
  Lama sekali Novi diam. Dia pandangi kedua temannya bergantian. 
“ Begini teman, beberapa hari ini, ibuku bertingkah  laku berbeda dengan biasanya.” sambil mengaduk-aduk bakso istimewa ala  Mbok Bon.
Novi bercerita bahwa ibunya selalu menempatkan minuman untuk ayahnya di rak piring bagian atas. Teh manis ayahnya yang biasanya dia minum bersama adiknya itu sekarang berpindah tempat.
“ Wah, kalau hanya begitu  bukan  masalah, dong. Itu biasa, bukan aneh,” kata Mimi.
“ Iya, kalau hanya begitu mungkin tidak aneh. Tapi aku pernah mendengar ibuku mengatakan begini, ‘Inilah minuman para dewa. Minuman ini terbuat dari buah-buahan surga. Minumlah pangeran.’ Ibuku  mengangkat cangkir yang biasa untuk minum teh itu tinggi-tinggi, lalu mengulurkan minuman itu kepada ayahku, layaknya seorang dukun.”  Novi memperagakan gerakan ibunya.
  Haaaah,” mulut Mimi dan Yulia ternganga. Mereka berdua saling memandang.
Dia ceritakan secara lengkap. Bagaimana ayahnya memejamkan mata, lalu menelan cairan aneh itu. Setelah minum seperti kesurupan. Dia peragakan saat ayahnya  menyeringai, matanya terkejab-kejab, dan uahhhh,uahhhh.ampuuuunn.
“Kalau begitu gawat, Nov. Jangan-jangan  ayah dan ibumu  penganut aliran sesat, seperti yang sering ditayangkan di TV itu,” kata Mimi.
Mereka bertiga meninggalkan kantin Mbok Bon, menuju kelasnya.
“ Hmm. Kita perlu membantu orang tua Novi untuk  melepaskan pengaruh  jahat yang berbahaya itu.”  usul Mimi.
“ Besok kan hari Minggu, Doni kita ajak ke rumah Novi. Kita minta Doni mencari akal  untuk  mengambil minuman berbahaya itu untuk kita selidiki,”  usul Yulia.  
Semalam Novi gelisah. Tidurnya tidak tenang. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa mungkin ayah ibunya betul-betul mengikuti aliran sesat seperti dugaan temannya.  
“Tak mungkiiiin!” teriak Novi sambil memukul-mukul bantalnya.
Ayah ibunya kaget, dan bergegas masuk ke kamar Novi.
“Ada apa Nov?”  tanya ibunya sambil meraba keningnya, “Sakit, ya ?”
“Enggak.  Novi nggak apa-apa. Lihat! Hmmmmm,  kan?” senyumnya dilebar-lebarkan.
Ayah ibunya tertawa melihat kelucuan anaknya.
Pagi harinya, Yulia, Mimi dan Doni datang. Mereka akan mengadakan penyelidikan. Novi bertugas mengawasi ibunya. Sambil membawa minuman, Novi mengajak ibunya ke serambi menemui temannya. Novi melihat minuman  aneh itu  berada di atas rak piring.
Doni sudah mengendap-endap di dekat dapur, hatinya berdebar-debar. Begitu  Novi dan ibunya meninggalkan dapur, Doni langsung melaksanakan tugasnya sesuai petunjuk Novi. Dia sudah membawa plastik untuk menuang minuman para dewa itu. Tentu saja tidak semua dituang, hanya sedikit saja untuk penyelidikan.
Yang  berada di serambi sibuk bercanda dengan ibu dan ayah Novi, sambil minum-minum dan makan singkong goreng.
“Hai, itu Doni kan? Dari mana saja kau?” tanya ayah Novi.
“ Nggak, Omm,” sambil tergagap-gagap.
“ Ke sini!  makan kue sumbu!”  ajak ibu Novi tanpa curiga.
“Benar juga, banyak yang aneh. Singkong saja disebut kue sumbu,” gumam Yulia.
Orang tua Novi meninggalkan mereka yang sedang  menikmati singkong goreng.
“ Berhasil tidak?” bisik mereka.
Doni mengangguk. “Nanti sore kita selidiki bersama,” kata Doni. Telapak tangan mereka satukan lalu berseru, hampir berteriak karena merasa sukses,“ Okey.  Hi hi hi.”
Sore harinya mereka sudah berada di “gubug” belajar Desy. Mereka berempat menghadapi sebuah cangkir berisi cairan  keruh  kehitaman. Baunya sangat menyengat.
“ Hiii,”  seru Mimi, “ Jadi cairan seperti ini yang diminum ayahmu, Nov?”
“ Ini gawat. Jangan hanya hiii gitu. Kita harus mencari cara untuk menyelamatkan orang tua Novi dari kepercayaan yang menyesatkan.” kata Doni serius. “ Nah, sekarang harus ada yang berani mencicipi  cairan ini.”  kata Doni sambil berdiri.
“ Novi saja. Kan ayahnya minum juga tak apa-apa,” usul Mimi.
“ Jangan aku. Doni saja, pahlawan kita, Mi,” jawab Novi.
Akhirnya Doni yang menjadi kelinci percobaan. Dia ragu. Diangkatnya tinggi-tinggi gelas yang berisi cairan ajaib itu, lalu diletakkan kembali, “ Gimana, ya. Aku takut, nih.”
“ Minum … minum … minum … minum ….” Kata yang lain sambil bertepuk tangan. Akhirnya, glek, glek, glek. Dan … “ Oh, ampun, ampun, ampun,”  Doni  berguling-guling di tikar sambil menjulur-julurkan lidahnya, “ Pahit sekali. Tolong aku.”
Yulia berlari masuk dapur mengambil air minum. “Cepat diminum!” Dia juga ikut ketakutan. Semua ketakutan.
Sekarang gimana? ” tanya Mimi. Mereka berempat bersandar di dinding “gubuk”.
“ Biarlah aku yang bertanya kepada ibuku saja. Peristiwa ini harus kita rahasiakan.” Kata Novi.
“Setidaknya sampai rahasia ini terungkap,”  Doni mulai bisa angkat bicara.
Malam harinya Novi tiduran di pangkuan  ibunya sambil nonton TV.  Lalu berbisik di telinga  ibunya,“ Minuman para dewa   itu apa sih, Bu?”
‘ Ah. Apa sih? Tampaknya tidak ada,” jawab ibunya sambil mengingat-ingat.
“ Tapi ibu pernah mengatakan begini, ‘inilah  minuman para dewa, yang dibuat dari buah-buahan surga.’ ”
“ Oh, anakku.” Ibunya memeluknya. “Ibu hanya main-main, hanya bercanda, agar ayahmu mau minum dengan semangat. Dan nama obat itu mahkota dewa. Ayahmu kan kena gelaja sakit gula. Hmm, jadi kau dengar, ya?”  Ibunya tampak menahan tawa. “ Ibu bilang hanya sekali kan?”
“Iya, ibu sambil begini ….” memperagakan gerakan ibunya yang pernah dilihatnya.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Novi memeluk ibunya erat-erat.
Novi sekarang tahu bahwa tidak baik, nguping pembicaraan orang lain. Teman-temannya pun tahu, bahwa tidak baik  melibatkan diri dengan urusan orang lain.
Kapok, deh.

         

 

DAFTAR  PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar, dan Alwasilah, Senny Suzanna. (2008). Pokoknya Menulis. Dirjen  Peningkatan Mutu Pendidikan dan tenaga Kependidikan Depdiknas Tahun 2008. Kiblat.
Lubis, Mochtar. Teknik Mengarang. PT Nunang Jaya. Cetakan ke IV.
Sarumpaet, R.I. (1973). Rahasia Mendidik Anak. Bandung. Indonesia Publising House Box 85.
Poerwadarminta, W.J.S. (1979). ABC Karang Mengarang. Yogya. UP Indonesia.
W.S.,Titik/Korrie Layun Rampan, Basino P.I, Titis/ Ismail Marahimin, Sarumpaet,Riris K Toha/ Sumardi Fawzia Azwin Hadis. (2003). Teknik Mnulis Cerita Anak. Yogyakarta. PUSBUK.

RAJA ABDULAH YANG BIJAKSANA



Raja Abdulah sangat prihatin, karena kedua putranya sangat bodoh. Beberapa guru besar istana sudah diminta untuk mendidiknya. Namun demikian, sampai usia dua belas tahun belum ada yang berhasil mendidik kedua putra raja. Para guru besar istana sebenarnya sudah  merasa bekerja keras melaksanakan tugas baginda, namun tidak berhasil.
“Ampun, Tuanku. Hamba tidak bisa mendidik putra Baginda.”
Raja Abdulah sangat sedih. Tidak mungkin kerajaan  yang subur makmur itu diserahkan kepada kedua putranya atau salah satu dari mereka.
“Hamba menghaturkan sembah, tuanku. Bagaimana kalau kedua putra baginda belajar di luar istana.?” kata penasihat raja.
“Maksud Paman bagaimana?”
“Biarkan pangeran mencari guru diluar istana, barangkali lebih baik begitu.”
Berhari-hari baginda tidak bisa tidur, memikirkan usulan penasihat raja beberapa waktu yang lalu. Tak sampai hati baginda untuk melepaskan kedua putra kesayangannya. Tetapi kalau kerajaan diserahkan kepada putranya  yang belum memiliki ilmu yang cukup, tentu lebih berbahaya. Maka diputuskannya untuk memerintahkan putranya untuk mencari guru diluar istana. 
“ Anak-anakku, kalian tidak mungkin bisa diangkat menjadi raja menggantikanku. Kemampuan kalian terlalu rendah. Pada hal sebagai calon raja harus memiliki berbagai ilmu pengetahuan, ilmu perang, dan memiliki jiwa kepemimpinan,”  sabda  baginda.
Kedua putra raja itu, pangeran Sidiq dan pangeran Yuan hanya diam. Kedua pangeran itu merasa, bahwa para guru besar mereka tidak pernah memberi ilmu pengetahuan apa-apa. Tiap hari hanya mengajak mereka bermain saja. Tetapi kedua pangeran itu tak tega melaporkan guru besar yang kurang bertanggung jawab mendidik mereka. Bagaimana pun ada ilmu yang dapat diambilnya. 
“ Mulai besok pagi, kalian harus keluar istana  ….” suara baginda bergema.
Kedua pangeran menjadi sangat takut. Dan muka mereka pucat pasi. Mereka tak menyangka kalau mereka  akan diusir dari istana secepat itu.
“Kami tak berani Ayahanda,” memandang guru besarnya.
“Carilah guru di luar istana, guru besar istana tidak mampu mendidik kalian. Kembalilah tahun depan, pada  tanggal dan bulan yang sama  dengan hari ini!”
“Kau! Para guru besar istana, tunggulah setahun lagi. Kedua putraku akan menentukan nasib kalian, mungkin  putraku memenjarakan atau memenggal leher kalian.” Baginda  meninggalkan persidangan.
Pangeran Sidiq dan pangeran Yuan tak berdiri dari tempat duduknya. Mereka sedih sekali. Semua meninggalkan balai persidangan. Para guru besar yang pengecut itu pun tak tampak batang hidungnya. Maka mendekatlah penasihat raja yang telah memberi saran  kepada baginda.
“Berangkatlah pangeran. Nasib rakyat dan kerajaan di tangan paduka. Jangan takut, Tuhan bersama Tuan. Mintalah petunjuk-Nya.”
“Kami tak sanggup, Paman.”
“Tuan pasti bisa. Baginda Raja Abdullah adalah raja yang pemberani, cerdas dan bijaksana. Tuan adalah putranya. Belajarlah agar bisa mewarisi semua kemampuan Baginda.” Kata-kata penasihat raja lembut tetapi tegas.
Pagi harinya, setelah minta doa restu kepada baginda dan permaisuri, mereka berangkat, tanpa pengawal. Mereka menyamar sebagai rakyat biasa. mereka berjalan sangat jauh dari kerajaan.
“Kanda kita cari guru bersama-sama,” kata pangeran Yuan.
“Tidak! Aku ke arah sana,  Dinda ke arah sana.” Dengan menunjuk arah yang berlawanan. Mereka berpelukan dan berpisah untuk mencari guru.
Dalam perjalanan kedua pangeran itu mengalami berbagai kesulitan. Kelaparan, kehausan, kelelahan tak dipikirkannya. Tekadnya hanya satu, mencari guru untuk belajar. Hutan yang lebat, padang luas, tebing yang curam telah dilalui. Akhirnya para pangeran menemukan guru yang dicarinya.
Pangeran Sidiq berguru kepada seorang guru agama yang sangat terkenal. Pangeran belajar tentang ilmu agama, ketakwaan, dalil-dalil agama, sejarah, kewajiban manusia terhadap Tuhan, kewajiban manusia terhadap manusia lain., tentang budi pekerti, dan kepemimpinan. Siang malam pangeran Sidiq belajar tak henti-henti. Gurunya sangat ketat mendidiknya.
Selain itu pangeran Sidiq diajari pula tentang hidup sederhana, supaya bisa merasakan kehidupan rakyat miskin. Pangeran harus membelah kayu bakar, mengambil air ke sumber air yang sangat jauh. Selain itu pangeran diharuskan puasa Senin dan Kamis.
Dalam waktu singkat pangeran Sidiq sudah ahli dalam bidang keagamaan dan kepemimpinan. Namun demikian pangeran Sidiq tak pernah memberi tahukan dia adalah putra Raja Abdulah yang dihormati dan dicintai rakyatnya.
Sedangkan pangeran Yuan mendapat guru yang ahli dalam perang. Pangeran belajar teknik menggunakan senjata. Pangeran belajar menggunakan pedang, menggunakan tombak dan panah, dengan jalan kaki atau naik kuda. Gurunya juga mengajarkan siasat perang, mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih banyak atau lebih lengkap persenjataannya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pangeran Yuan sudah menguasai strategi perang yang luar biasa.
Pada tanggal dan bulan yang sudah  ditentukan, mereka bertemu kembali, di tempat mereka berpisah tahun lalu. Mereka berpelukan dan bertangisan. Tak lama kemudian berjalan beriringan menuju istana, sambil menceritakan pengalaman masing-masing. Guru mereka ikut serta. Mereka berempat menghadap baginda. Kedua pangeran itu sudah bertambah dewasa, gagah dan tampan. Sampai di pintu kota para guru mereka terkejut. Mereka tahu ke mana arah yang dituju muridnya itu. Mereka baru tahu siapa yang dididiknya selama itu. Mereka langsung menghaturkan sembah dan mohon ampunan atas perlakuannya selama pangeran menjadi muridnya. Kedua pangeran memaafkan mereka.
Sampailah rombongan putra raja tersebut di istana. Kedatangan  mereka berempat disambut dengan suka cita oleh keluarga kerajaan.
Esok  harinya, teratak untuk pemilihan calon raja sudah dihiasi dengan janur kuning, rumbai-rumbai, dan bunga-bunga warna-warni.  Hari itu akan ditentukan siapa dari dua pangeran itu yang berhak menjadi raja. Rakyat diundang dari seluruh negeri. Rakyat harus tahu siapa calon raja pengganti baginda raja Abdulah. 
Tak lama kemudian kedua pangeran duduk berdampingan dengan para gurunya.  Baginda raja Abdulah, permaisuri, penasihat raja dan para punggawa kerajaan duduk di anjungan bersama para putri.
“ Sekarang, tunjukkan hasil belajarmu selama satu tahun kalian di hadapanku dan hadapan rakyat. Pangeran Sidiq tunjukkan keahlianmu!” raja Abdulah duduk kembali.
Suara tepuk tangan dan sorak sorai bergema. Raja dan permaisuri tersenyum. Pangeran  Sidik dengan jubah berwarna putih dan surban putih, didampingi gurunya Syeh Maulana yang juga memakai jubah putih, mendekati meja beralaskan kain sutera warna hijau berenda putih. Di atasnya terdapat kitab suci yang diletakkan di sebuah nampan yang terbuat dari emas. Pangeran Sidiq memberi hormat baginda dan permaisuri, lalu duduk bersimpuh.
Maka terdengarlah lantunan bacaan kitab suci dengan suara yang sangat merdu. Tak ada suara tepuk tangan tak ada sorak. Tak lama kemudian pangeran berdakwah, sesuai petunjuk gurunya.
Setelah selesai, terdengar gegap gempita suara sorak sorai lagi. Rakyat bangga memiliki calon raja yang santun dan berwibawa.
“ Tunjukkan kehebatanmu pangeran Yuan!”  perintah baginda.
Dengan pakaian keprajuritan, pangeran Yuan, dan gurunya Syeh Haidar, menghadap baginda dan permaisuri, lalu memberi hormat. Mereka berdua menunjukkan atraksi perang dengan berbagai jurus. Pangeran Yuan dan gurunya sama ahlinya memainkan senjata. Main pedang, main panah, dan lembing sudah dilaksanakan dengan sempurna. Sorak dan tepuk tangan tak henti-hentinya.
Suasana menjadi hening setelah baginda raja dan permaisuri berdiri. Semua menanti keputusan baginda. Tak ada yang menjagokan di antara dua pangeran. Semua hebat dan mengagumkan. Semua berdebar-debar.
“Dengarlah, wahai rakyatku! Kalian telah melihat bahwa kedua putraku telah menunjukkan keahlian masing-masing di hadapan kalian dengan sangat memuaskan.”
“Hidup pangeran Sidiq, hidup pangeran Yuan,” Rakyat berteriak.
Maka dari itu kerajaan ini akan aku bagi dua, untuk kedua putraku.” Raja diam sejenak. Tampak ada keharuan di wajah baginda. Putranya yang dahulu bodoh sudah berubah menjadi sangat hebat.
“Hidup Baginda Raja Abdulah. Hidup raja yang bijaksana.” 
Rakyat gembira dan puas dengan keputusan baginda.
Kedua guru yang telah berhasil mendidik putra baginda dipanggil ke istana. Baginda mengucapkan terima kasih. Para guru diminta tinggal di istana, dan diberi tempat tinggal yang layak. Atas permintaan kedua pangeran itu para guru besar istana yang tidak mampu mendidik mereka, dikeluarkan dari penjara.
“ Syeh Maulana, didiklah putraku, Pangeran Yuan dengan ilmu agama seperti yang kau ajarkan kepada anakku, Pangeran Sidiq,” menunjuk Syeh Maulana.
“Baik, Baginda.”
“ Syeh Haidar, didiklah putraku Pangeran Sidiq dengan ilmu perang yang kau ajarkan kepada anakku pangeran Yuan.” menunjuk Syeh Haidar.
“Baik, Baginda.”
“ Dan … kalian wahai para guru besar istana, ….” 
Guru besar istana tidak berani mengangkat muka. Mereka sangat takut. Mereka memastikan akan mendapat murka, karena tidak bisa mendidik putra baginda.
“Belajarlah kepada mereka,” lanjut baginda. “Semua ini atas permintaan kedua putraku, yang bijaksana.”
“Bbbaiiik, Baginda.” Dengan  perasaan lega mereka menjawab dengan serempak.
“Terima kasih pangeran….” tertuduk malu.
Sejak saat itu kedua guru yang telah berhasil mendidik putra baginda itu tinggal di kerajaan bersama para guru besar istana.  Kerajaan yang telah dibagi dua semakin makmur, karena dipimpin oleh dua raja yang cerdas, bijaksana dan pandai berperang.





ANAK KERA YANG CERDAS



Segerombolan kera sedang makan pagi. Buah-buahan segar bergantungan di pohon. Mereka berceroceh dengan gembira. Cuitttt, cuittt. Mereka bergantungan sambil makan buah. Lihatlah bayi-bayi kera yang lucu, menempel di tubuh induknya. Yang agak besar dengan lincahnya bergantung ke sana ke mari. Kadang-kadang mereka bergantung denga satu kakinya. Wah lucu sekali. Ha, ha, ha.
Tiba-tiba, dooorrr, dooorrr. Terdengan suara dahsyat dari tempat yang jauh. Suara itu membuyarkan kerumunan kera yang sedang pesta. Semua kera lari menyelamatkan diri, bersembunyi di tempat yang tidak mudah terlihat. Ada yang meringkuk, direrimbunan daun, ada yang memanjat di pohon yang sangat tinggi.
Sayangnya ada seekor anak kera yang jatuh ke rawa. Tubuhnya basah kuyub. Dengan susah payah anak kera itu naik ke batu besar yang ada di tengah rawa itu. Kera kecil itu mmenggigil kedinginan.”Ciet, ciet. Ciet. “Mammmma ….”
Ksihan sekali. Induknya tak mendengarnya. Induknya telah lari jauh menghindari bahaya. Sinar matahari pagi belum bisa menghangati tubuhnya yang mungil dengan bulu yang lengket dengan tubuhnya.
Tak lama kemudian datang induk serigala dengan dua anaknya yang melintas di dekat rawa.
“Mama lihatlah. Ada anak kera di sana. Tampaknya perlu bantuan,” kata anak serigala.
“Oh, kasihan sekali,” sahut induk serigala.”Marilah aku bantu.”
Langsung mencebur ke rawa yang agak dalam itu, menjemput anak kera yang kedinginan. Tangan kera kecil memeluk leher induk serigala. Dengan lidah menjulur dan hah, hah, hahhh. Induk serigala menggendong anak kera. Dan happp. Induk keran melompat ketepi rawa.
Dengan sigap kedua anak serigala menyambut teman barunya si kera kecil sambil melompat-lompat. Mereka mengelilingi anak kera sambil mengibahngibaskan ekornya yang kecil. Eerrr. Eerrr.
Mereka mulai menjilati tubuh kera kecil, sampai tubuh kera tertongkang-tongkang, terseok-seok, dan terjungkal-jungkal.
“Cieh, cieh, cieh,” kera kecil merintih-rintih.
Mereka berbaring di rerumputan, bergulingan, saling mempermainkan ekor saudaranya. Tak ketinggalan ekor kera kecil pun dipermainkan., sampai menjerit-jerit. “Ciettt, ciettt. Jangan ganggu aku…”
“Masih kedinginan, anak manis?” tanya induk serigala.
“Tidak, Bibi.”
Mereka meninggalkan tempat itu.  Induk serigala menggendong anak kera.Mereka bercanda kembali.Anak kera menengok ke kanan, menengok ke kiri, menyaksikan tingkah anak serigala yang lucu itu.
“Haiiii,” teriak anak kera ketika anak serigala itu menyentuh ekornya.
Anak kera itu pun ikut bercanda. Ia tangkap ekor anak serigala ketika menjulur di dekatnya.
“Kena.....” sambil tertawa.
“ Jangan, jangan.... tolong lepaskan....”
Anak serigala itu menyimpan ekornya di bawah perutnya, agar anak kera tidak bisa menangkapnya. Kera kecil sudah mulai pulih dari ketakutannya, dan sehat kembali. Kelincahannya mulai kelihatan. Dia  tampak nakalnya. Dia melompat-lompat dari punggung induk serigala ke anak serigala, lalu menggigit telinga anak serigala.
“Hap..., kena lagi....”
“Mama, tolong....”
“ jangan saling mengganggu, anak-anak,” kata induk serigala dengan lembut.
“Bibi Seri,  aku mau naik ke sana.”
Tanpa menunggu jawaban, anak kera itu sudah melompat ke atas  pohon. Dia memetik daun-daun muda dan memakannya dengan lahap. Anak kera melompat dari dahan ke ranting, merangkak-rangkak ke pucuknya, hap .... turun ke tanah dengan lincah. Rupanya ia melatih otot-ototnya.
Keluarga serigala itu menyaksikan akrobatik yang indah itu dengan takjub. Kera kecil lari sambil menangkap telinga serigala kecil, lalu menarik ekornya
Anak-anak serigala mengejarnya, dan dengan beberapa lompatan kera itu sudah berada di atas pohon. Turun dengan cepat dan menarik ekor anak serigala. 
“Mama, Mama.....”
Mereka melanjutkan perjalanan. Tak henti-hentinya anak-anak itu saling mengganggu.
Tiba-tiba .......
“Lihat, Ma! Banyak burung bangkai  terbang  ke sana. Barang kali ada pesta.”
Induk serigala dan anak-anaknya menaikkan moncongnya, mencium udara. Tanpa diperintah anak kera itu melompat ke atas pohon melihat berkeliling. Dari ranting ke ranting melompat dengan dengan cepat menuju tempat burung-burung bangkai terbang memutar-mutar di udara. Sambil tangannya berpegangan pada dahan dia memanggil induk serigala.
” Di sana, Bibi Seri...” menunjuk  ke suatu arah.
Kera itu tidak lagi berjalan di bawah bersama serigala..Ia melompat dari pohon ke pohon, seolah-olah sebagai penunjuk jalan.
“Berhentilah dulu. Aku akan melihat dari dekat”
Anak  kera itu melihat seekor harimau yang sedang makan daging dengan lahap. Ia melambaikan tangannya ke arah serigala supaya mendekat. Ia memberi tahu bahwa  di sana ada  seekor harimau  sedang makan daging. Keluarga serigala  mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Kalian harus hati-hati,” katanya setelah kembali mendekati keluarga serigala.
”Ada potongan daging di sana, ambil dan lari kencang. Aku akan bermain dengan paman harimau,” sambil mondar-mandir.
“Baiiiik....” kata mereka serempak.
Anak kera segera meloncat ke atas pohon. Dia goyangkan ranting-ranting. Lalu kedua kakinya dia gunakan untuk mencengkeram ranting lentur.  Kepalanya menjulai ke bawah sambil makan daun-danu muda. Dia bergoyang, berayun-ayun.
“Paman harimau aku di sini,”kata kera.
Harimau itu melihat ke atas sebentar. Mulutnya penuh daging segar. Harimau makan dengan sangat nikmatnya.  Tanpa reaksi, harimau meneruskan makan kembali.
Hrrrr, hrrrr, krreeek, kreeek.
“Sombong amat, sih Paman, Bagi-bagi, dong ....” sambil turun dari pohon.
Anak kera itu mendekati harimau. Dia berjalan ke arah ekor dengan berjingkat-jingkat lalu  menyentuhnya, ditarik-tarik. Plak… plak …. Ekor harimau bergerak-gerak.
“Ekor Paman bagus, seperti kipas putri raja.”
“Hrrr, hrrrr. Hai, kamu mau apa?”sambil menoleh, dan mengangkat tinggi-tinggi ekornya.
Kera kecil melompat ke samping, “Paman harimau...sombong...sombong....”
Harimau berdiri akan menerkam anak kera, yang lari sambil melompat ke  kanan ke kiri dengan cepat.
“Tidak kena....tidak kena ....heee.”
Ketika hampir tersentuh cakarnya, kera kecil itu sudah melompat ke pohon.Turun lagi, menyentuh ekor harimau saat harimau itu makan kembali, lari lagi.
Akhirnya harimau itu geram juga, dan mengejarnya. Anak kera lari kencang menjauh dari tempat tadi. Kemudian....
“Aku di sini.....yek,yek..” dan sudah bergantungan di pohon.
“Awas, kau kera nakal.” Meninggalkan anak kera yang tertawa-tawa di atas pohon.
Dari atas pohon dia mencari induk serigala dan anak-anaknya. Tiba-tiba ia melihat semak bergerak-gerak. Ia amati  dengan teliti, “Nnnnaah ....ketemu, kalian.”
Anak kera itu pun berbaring di samping  mereka yang sedang pesta daging. Setelah makan selesai ....
“Bibi, Seri. Tubuhku sudah cukup kuat. Aku akan mencari keluargaku,” katanya sambil tersenyum.
“Selamat tinggal kawan, terima kasih semuanya.”
“Hati-hati..... dan selamat jalan,” kata mereka, sambil mengibas-ngibaskan ekornya