Rabu, 08 April 2015

MINUMAN PARA DEWA



Akhir-akhir ini Novi tampak berbeda dengan biasanya. Wajahnya tidak ceria seperti biasanya. Teman-temannya tak berani bertanya, takut menyinggung perasaannya.
“ Teman-teman, keluargaku  akhir-akhir ini aneh,”  kata Novi sedih.
“ Aneh bagaimana?” tanya Yulia,“ Siapa yang aneh? Ayahmu atau ibumu?”
  Lama sekali Novi diam. Dia pandangi kedua temannya bergantian. 
“ Begini teman, beberapa hari ini, ibuku bertingkah  laku berbeda dengan biasanya.” sambil mengaduk-aduk bakso istimewa ala  Mbok Bon.
Novi bercerita bahwa ibunya selalu menempatkan minuman untuk ayahnya di rak piring bagian atas. Teh manis ayahnya yang biasanya dia minum bersama adiknya itu sekarang berpindah tempat.
“ Wah, kalau hanya begitu  bukan  masalah, dong. Itu biasa, bukan aneh,” kata Mimi.
“ Iya, kalau hanya begitu mungkin tidak aneh. Tapi aku pernah mendengar ibuku mengatakan begini, ‘Inilah minuman para dewa. Minuman ini terbuat dari buah-buahan surga. Minumlah pangeran.’ Ibuku  mengangkat cangkir yang biasa untuk minum teh itu tinggi-tinggi, lalu mengulurkan minuman itu kepada ayahku, layaknya seorang dukun.”  Novi memperagakan gerakan ibunya.
  Haaaah,” mulut Mimi dan Yulia ternganga. Mereka berdua saling memandang.
Dia ceritakan secara lengkap. Bagaimana ayahnya memejamkan mata, lalu menelan cairan aneh itu. Setelah minum seperti kesurupan. Dia peragakan saat ayahnya  menyeringai, matanya terkejab-kejab, dan uahhhh,uahhhh.ampuuuunn.
“Kalau begitu gawat, Nov. Jangan-jangan  ayah dan ibumu  penganut aliran sesat, seperti yang sering ditayangkan di TV itu,” kata Mimi.
Mereka bertiga meninggalkan kantin Mbok Bon, menuju kelasnya.
“ Hmm. Kita perlu membantu orang tua Novi untuk  melepaskan pengaruh  jahat yang berbahaya itu.”  usul Mimi.
“ Besok kan hari Minggu, Doni kita ajak ke rumah Novi. Kita minta Doni mencari akal  untuk  mengambil minuman berbahaya itu untuk kita selidiki,”  usul Yulia.  
Semalam Novi gelisah. Tidurnya tidak tenang. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa mungkin ayah ibunya betul-betul mengikuti aliran sesat seperti dugaan temannya.  
“Tak mungkiiiin!” teriak Novi sambil memukul-mukul bantalnya.
Ayah ibunya kaget, dan bergegas masuk ke kamar Novi.
“Ada apa Nov?”  tanya ibunya sambil meraba keningnya, “Sakit, ya ?”
“Enggak.  Novi nggak apa-apa. Lihat! Hmmmmm,  kan?” senyumnya dilebar-lebarkan.
Ayah ibunya tertawa melihat kelucuan anaknya.
Pagi harinya, Yulia, Mimi dan Doni datang. Mereka akan mengadakan penyelidikan. Novi bertugas mengawasi ibunya. Sambil membawa minuman, Novi mengajak ibunya ke serambi menemui temannya. Novi melihat minuman  aneh itu  berada di atas rak piring.
Doni sudah mengendap-endap di dekat dapur, hatinya berdebar-debar. Begitu  Novi dan ibunya meninggalkan dapur, Doni langsung melaksanakan tugasnya sesuai petunjuk Novi. Dia sudah membawa plastik untuk menuang minuman para dewa itu. Tentu saja tidak semua dituang, hanya sedikit saja untuk penyelidikan.
Yang  berada di serambi sibuk bercanda dengan ibu dan ayah Novi, sambil minum-minum dan makan singkong goreng.
“Hai, itu Doni kan? Dari mana saja kau?” tanya ayah Novi.
“ Nggak, Omm,” sambil tergagap-gagap.
“ Ke sini!  makan kue sumbu!”  ajak ibu Novi tanpa curiga.
“Benar juga, banyak yang aneh. Singkong saja disebut kue sumbu,” gumam Yulia.
Orang tua Novi meninggalkan mereka yang sedang  menikmati singkong goreng.
“ Berhasil tidak?” bisik mereka.
Doni mengangguk. “Nanti sore kita selidiki bersama,” kata Doni. Telapak tangan mereka satukan lalu berseru, hampir berteriak karena merasa sukses,“ Okey.  Hi hi hi.”
Sore harinya mereka sudah berada di “gubug” belajar Desy. Mereka berempat menghadapi sebuah cangkir berisi cairan  keruh  kehitaman. Baunya sangat menyengat.
“ Hiii,”  seru Mimi, “ Jadi cairan seperti ini yang diminum ayahmu, Nov?”
“ Ini gawat. Jangan hanya hiii gitu. Kita harus mencari cara untuk menyelamatkan orang tua Novi dari kepercayaan yang menyesatkan.” kata Doni serius. “ Nah, sekarang harus ada yang berani mencicipi  cairan ini.”  kata Doni sambil berdiri.
“ Novi saja. Kan ayahnya minum juga tak apa-apa,” usul Mimi.
“ Jangan aku. Doni saja, pahlawan kita, Mi,” jawab Novi.
Akhirnya Doni yang menjadi kelinci percobaan. Dia ragu. Diangkatnya tinggi-tinggi gelas yang berisi cairan ajaib itu, lalu diletakkan kembali, “ Gimana, ya. Aku takut, nih.”
“ Minum … minum … minum … minum ….” Kata yang lain sambil bertepuk tangan. Akhirnya, glek, glek, glek. Dan … “ Oh, ampun, ampun, ampun,”  Doni  berguling-guling di tikar sambil menjulur-julurkan lidahnya, “ Pahit sekali. Tolong aku.”
Yulia berlari masuk dapur mengambil air minum. “Cepat diminum!” Dia juga ikut ketakutan. Semua ketakutan.
Sekarang gimana? ” tanya Mimi. Mereka berempat bersandar di dinding “gubuk”.
“ Biarlah aku yang bertanya kepada ibuku saja. Peristiwa ini harus kita rahasiakan.” Kata Novi.
“Setidaknya sampai rahasia ini terungkap,”  Doni mulai bisa angkat bicara.
Malam harinya Novi tiduran di pangkuan  ibunya sambil nonton TV.  Lalu berbisik di telinga  ibunya,“ Minuman para dewa   itu apa sih, Bu?”
‘ Ah. Apa sih? Tampaknya tidak ada,” jawab ibunya sambil mengingat-ingat.
“ Tapi ibu pernah mengatakan begini, ‘inilah  minuman para dewa, yang dibuat dari buah-buahan surga.’ ”
“ Oh, anakku.” Ibunya memeluknya. “Ibu hanya main-main, hanya bercanda, agar ayahmu mau minum dengan semangat. Dan nama obat itu mahkota dewa. Ayahmu kan kena gelaja sakit gula. Hmm, jadi kau dengar, ya?”  Ibunya tampak menahan tawa. “ Ibu bilang hanya sekali kan?”
“Iya, ibu sambil begini ….” memperagakan gerakan ibunya yang pernah dilihatnya.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Novi memeluk ibunya erat-erat.
Novi sekarang tahu bahwa tidak baik, nguping pembicaraan orang lain. Teman-temannya pun tahu, bahwa tidak baik  melibatkan diri dengan urusan orang lain.
Kapok, deh.

         

 

DAFTAR  PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar, dan Alwasilah, Senny Suzanna. (2008). Pokoknya Menulis. Dirjen  Peningkatan Mutu Pendidikan dan tenaga Kependidikan Depdiknas Tahun 2008. Kiblat.
Lubis, Mochtar. Teknik Mengarang. PT Nunang Jaya. Cetakan ke IV.
Sarumpaet, R.I. (1973). Rahasia Mendidik Anak. Bandung. Indonesia Publising House Box 85.
Poerwadarminta, W.J.S. (1979). ABC Karang Mengarang. Yogya. UP Indonesia.
W.S.,Titik/Korrie Layun Rampan, Basino P.I, Titis/ Ismail Marahimin, Sarumpaet,Riris K Toha/ Sumardi Fawzia Azwin Hadis. (2003). Teknik Mnulis Cerita Anak. Yogyakarta. PUSBUK.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar