Rabu, 08 April 2015

GURUKU



Upacara bendera dan acara perpisahan dengan Pak Winadi telah selesai. Kami langsung masuk kelas untuk mengadakan rapat kilat. Ketua kelasku, Faizal, berdiri di depan kelas. Beberapa  temanku yang  laki-laki mondar-mandir, sedang yang perempuan hanya duduk diam.
Kepindahan Pak Winadi betul-betul tak bisa diterima. Kami ingin membatalkan kepindahan itu. Kami takut tidak lulus, jika guru yang pintar itu diganti guru lain. Maka dari itu kami sekelas akan mengadakan protes di depan ruang guru.
 “Mari kita keluar!” kata Faizal membakar semangat..
  Kami berteriak bersama-sama, agar terdengar oleh kepala sekolah dan guru yang sedang rapat.
“Jangan tinggalkan kami, Pak Winadi!” suara mereka seperti paduan suara.
“Jangan pindah, Pak!” Nita  tersedu.
“Jangan pindah, Pak!”  diikuti oleh teman-temanku.
Anak-anak kelas lain melongok dari jendela.O, anak kelas enam, gumam mereka. Bicara kami simpang siur, sehingga menimbulkan kegaduhan. Sebagian siswa kelas lain berlarian keluar. Mereka ikut bergabung, dan ikut-ikutan berteriak. Pada hal mereka tidak tahu apa-apa.
Bu Harti tergopoh-gopoh keluar. Melihat ke sana kemari dan tampak kebingungan.
“Hei…hei…ada apa, anak-anak?” berhenti sejenak. “Ayo, yang lain masuk kelas,” katanya tegas, dan menarik beberapa siswa yang belum mau bergerak.
Bapak Kepala Sekolah dan guru-guru lain keluar. Yang mengajar langsung menuju kelasnya masing-masing. Sekarang tinggal tiga orang, Bapak Kepala Sekolah, Pak Winadi dan Bu Rini, seorang guru baru..
“Mari masuk kelas,” ajak Pak Winadi.
Kalau yang berbicara Pak Winadi, kami tak bisa menolak. Semua masuk kelas dengan patuh. Dua anak perempuan menggandeng tangan Pak Winadi.
“Bapak tidak jadi pindah, kan?” tanya Lusi sambil tersedu.
“Iya kan, Pak?” tanyaku yang sejak tadi hanya ikut-ikutan ke sana kemari.
“Apakah kalian munyukai Pak Winadi?” tanya Bapak Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah menjelaskan kepada kami bahwa Pak Winadi harus pindah dari sekolah kami, karena diangkat sebagai kepala sekolah. Kami diminta merelakannya agar Pak Winadi lebih sukses.
Pak Winadi diminta kepala sekolah untuk berbicara. Matanya berkaca-kaca. Tampaknya Pak Winadi sangat terharu. Siswanya begitu mencintainya.
“Anak-anak,” suaranya tersendat. “Aku terpaksa harus pindah ….”
“Tidak…!!! Jangan tinggalkan kami.” Semua murid menangis.
Pak Winadi  tampak menahan sedu, suaranya agak parau. “Tenanglah anak-anak. Guru baru kalian, Ibu Rini akan menggantikanku,” memandang Bu Rini.
Sikap kami terhadap guru baru itu terasa kaku dan kurang bersahabat. Kehilangan Pak Winadi melebihi segalanya bagi kami sekelas, tak bisa tergantikan siapa pun.
“Perlu kalian tahu, Bu Rini adalah guru yang sangat berpengalaman. Beliau juga ahli dalam dunia tarik suara.” Sambung Pak Kepala. “Coba, Bu tunjukkan kepada anak-anak,” perintah Pak Kepala berusaha menetralkan suasana.
“Dengarkan anak-anak!” kata Bu Rini.
Ingatlah wahai manusia, jika dirimu bernoda....
Tiba-tiba beberapa siswa ikut menyambung dan bernyanyi bersama Bu Rini, dan secara serentak semua bernyanyi, sambil bertepuk tangan. Setelah selesai Pak Winadi dan Pak Kepala bertepuk tangan. Kami  sekelas gembira kembali. Ternyata  Bu Rini suaranya bagus. Kalau Pak Winadi pintar bermain gitar,  Bu Rini punya kelebihan dalam bidang tarik suara.
“Teruskan, Bu Rini!”  Pak Kepala dan Pak Winadi meninggalkan ruang kelas.
“Sekarang pelajaran bahasa Indonesia. Kalian akan mendengarkan musik, lalu  bayangkan.  Tulislah cerita sesuai dengan suasana yang terlukiskan dari suara musik itu!”
Musik pun diperdengarkan. Suasana hening, kami menyimak dengan seksama. Suara musik mengusik perasaan kami. Yang terdengar adalah gemuruh suara tanah longsor, pohon tumbang, air mengalir deras, jeritan dan rintihan. Sebentar-sebentar kami kaget. Teman-temanku ada yang tersedu, ada yang telungkup di atas meja, ada pula yang menutup mukanya.
Kami semua mengarang cerita. Bu Rini juga menulis, tetapi hanya sebentar. Mungkin Bu Rini tidak mengarang tetapi mengerjakan tugas lain. Bu Rini keliling melihat hasil karangan kami. Yang tersendat dibantu, yang tidak bisa dibimbing.
Pembuatan cerita selesai. Bu Rini membacakan cerita tentang Tsunami yang tadi ditulisnya. Setelah itu, kami ditugasi membaca cerita kami masing-masing. Semua menjadi sangat terharu, karena rata-rata siswa menulis tentang bencana tanah longsor, ada juga yang menulis tentang banjir.
“Kalian semua luar biasa,” sambil mengacungkan jempol. “Tepuk tangan ….”   
Kami semua gembira, dapat mengarang cerita yang menakjubkan. Kami baru sadar ternyata semua guru hebat dan mengagumkan. Minggu depan Bu Rini mengajak kami ke bukit “Petruk” yang tak jauh dari sekolah. Kami akan menulis puisi tentang alam. Semua murid diminta membawa minuman.
Mulai saat itu tak ada lagi protes dan tak ada lagi demo. Sekolah aman dan damai.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar