Upacara bendera dan acara perpisahan
dengan Pak Winadi telah selesai. Kami langsung masuk kelas untuk mengadakan
rapat kilat. Ketua kelasku, Faizal, berdiri di depan kelas.
Beberapa temanku yang laki-laki mondar-mandir, sedang yang
perempuan hanya duduk diam.
Kepindahan
Pak Winadi betul-betul tak bisa
diterima. Kami ingin membatalkan kepindahan itu. Kami takut tidak lulus, jika
guru yang pintar itu diganti guru lain. Maka dari itu kami sekelas akan
mengadakan protes di depan ruang guru.
“Mari kita keluar!” kata Faizal membakar
semangat..
Kami
berteriak bersama-sama, agar terdengar oleh kepala sekolah dan guru yang sedang
rapat.
“Jangan
tinggalkan kami, Pak Winadi!” suara mereka seperti paduan suara.
“Jangan
pindah, Pak!” Nita tersedu.
“Jangan
pindah, Pak!” diikuti oleh
teman-temanku.
Anak-anak
kelas lain melongok dari jendela.O, anak kelas enam, gumam mereka. Bicara kami simpang
siur, sehingga menimbulkan kegaduhan. Sebagian siswa kelas lain berlarian keluar.
Mereka ikut bergabung, dan ikut-ikutan berteriak. Pada hal mereka tidak tahu
apa-apa.
Bu
Harti tergopoh-gopoh keluar. Melihat ke sana
kemari dan tampak kebingungan.
“Hei…hei…ada
apa, anak-anak?” berhenti sejenak. “Ayo, yang lain masuk kelas,” katanya tegas,
dan menarik beberapa siswa yang belum mau bergerak.
Bapak
Kepala Sekolah dan guru-guru lain keluar. Yang mengajar langsung menuju
kelasnya masing-masing. Sekarang tinggal tiga orang, Bapak Kepala Sekolah, Pak
Winadi dan Bu Rini, seorang guru baru..
“Mari
masuk kelas,” ajak Pak Winadi.
Kalau
yang berbicara Pak Winadi, kami tak bisa menolak. Semua masuk kelas dengan
patuh. Dua anak perempuan menggandeng tangan Pak Winadi.
“Bapak
tidak jadi pindah, kan?”
tanya Lusi sambil tersedu.
“Iya
kan, Pak?” tanyaku yang sejak tadi hanya
ikut-ikutan ke sana
kemari.
“Apakah
kalian munyukai Pak Winadi?” tanya Bapak Kepala Sekolah.
Kepala
Sekolah menjelaskan kepada kami bahwa Pak Winadi harus pindah dari sekolah
kami, karena diangkat sebagai kepala sekolah. Kami diminta merelakannya agar
Pak Winadi lebih sukses.
Pak
Winadi diminta kepala sekolah untuk berbicara. Matanya berkaca-kaca. Tampaknya Pak
Winadi sangat terharu. Siswanya begitu mencintainya.
“Anak-anak,”
suaranya tersendat. “Aku terpaksa harus pindah ….”
“Tidak…!!!
Jangan tinggalkan kami.” Semua murid menangis.
Pak
Winadi tampak menahan sedu, suaranya
agak parau. “Tenanglah anak-anak. Guru baru kalian, Ibu Rini akan
menggantikanku,” memandang Bu Rini.
Sikap
kami terhadap guru baru itu terasa kaku dan kurang bersahabat. Kehilangan Pak
Winadi melebihi segalanya bagi kami sekelas, tak bisa tergantikan siapa pun.
“Perlu
kalian tahu, Bu Rini adalah guru yang sangat berpengalaman. Beliau juga ahli
dalam dunia tarik suara.” Sambung Pak Kepala. “Coba, Bu tunjukkan kepada
anak-anak,” perintah Pak Kepala berusaha menetralkan suasana.
“Dengarkan
anak-anak!” kata Bu Rini.
Ingatlah
wahai manusia, jika dirimu bernoda....
Tiba-tiba beberapa siswa ikut menyambung dan
bernyanyi bersama Bu Rini, dan secara serentak semua bernyanyi, sambil bertepuk
tangan. Setelah selesai Pak Winadi dan Pak Kepala bertepuk tangan. Kami sekelas gembira kembali. Ternyata Bu Rini suaranya bagus. Kalau Pak Winadi
pintar bermain gitar, Bu Rini punya
kelebihan dalam bidang tarik suara.
“Teruskan,
Bu Rini!” Pak Kepala dan Pak Winadi
meninggalkan ruang kelas.
“Sekarang
pelajaran bahasa Indonesia.
Kalian akan mendengarkan musik, lalu bayangkan.
Tulislah cerita sesuai dengan suasana yang terlukiskan dari suara musik
itu!”
Musik
pun diperdengarkan. Suasana hening, kami menyimak dengan seksama. Suara musik
mengusik perasaan kami. Yang terdengar adalah gemuruh suara tanah longsor, pohon
tumbang, air mengalir deras, jeritan dan rintihan. Sebentar-sebentar kami
kaget. Teman-temanku ada yang tersedu, ada yang telungkup di atas meja, ada
pula yang menutup mukanya.
Kami
semua mengarang cerita. Bu Rini juga menulis, tetapi hanya sebentar. Mungkin Bu
Rini tidak mengarang tetapi mengerjakan tugas lain. Bu Rini keliling melihat
hasil karangan kami. Yang tersendat dibantu, yang tidak bisa dibimbing.
Pembuatan
cerita selesai. Bu Rini membacakan cerita tentang Tsunami yang tadi ditulisnya.
Setelah itu, kami ditugasi membaca cerita kami masing-masing. Semua menjadi
sangat terharu, karena rata-rata siswa menulis tentang bencana tanah longsor,
ada juga yang menulis tentang banjir.
“Kalian
semua luar biasa,” sambil mengacungkan jempol. “Tepuk tangan ….”
Kami
semua gembira, dapat mengarang cerita yang menakjubkan. Kami baru sadar
ternyata semua guru hebat dan mengagumkan. Minggu depan Bu Rini mengajak kami
ke bukit “Petruk” yang tak jauh dari sekolah. Kami akan menulis puisi tentang
alam. Semua murid diminta membawa minuman.
Mulai
saat itu tak ada lagi protes dan tak ada lagi demo. Sekolah aman dan damai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar