Introduksi
Penyair Yunani Simonides, yang hidup di tahun 477 SM
memiliki daya ingat yang luar biasa. Ia mampu mengingat identitas semua tamu
undangan yang hadir dalam suatu pesta yang ia kunjungi. Untuk keperluan penyidikan
Simonides membantu dalam mengidentifikasi para tamu yang tertimbun reruntuhan bangunan,
saat tempat pesta tersebut tiba-tiba
runtuh, dan mengakibatkan hampir semua pengunjung tewas.
Apa yang
dilakukan Simonides ketika itu ? Ternyata selama berada dalam pesta itu,
Simonides membayangkan orang-orang yang berada di sekeliling meja tempat pesta
itu diadakan. Sehingga ia ingat betul para tamu
yang berada di tempat pesta itu beserta identitasnya masing-masing. Sejak
saat itu , metode mengingat seperti yang dilakukan Simonides ini disebut metode
lokus, dan dianggap sebagai alat
pengingat di masa Yunani kuno. (Douglas J. Herrmann, 1999 : 2 )
Hal-hal yang Mempengaruhi Daya Ingat
Masalah daya
ingat sangat berkaitan dengan masa kecil seseorang. Apabila masa kecilnya
mendapat banyak rangsangan, latihan, berada dilingkungan yang memungkinkan
mengenal banyak hal, akan mempertajam daya ingat yang dimiliki. Bila selama belajar mengenal berbagai objek yang ada disekeliling anak
situasinya menyenangkan, mendapat bantuan orang dewasa, tanpa banyak larangan
dan hukuman, maka otak mereka akan mampu merekam setiap potong informasi yang dikenalnya. Ada
waktu-waktu tertentu yang memungkinkan otak manusia memiliki daya rekam luar
biasa. Adapun masa berharga dan waktu yang paling tepat untuk belajar bagi anak adalah sejak anak mengenali
lingkungannya sampai usia 5 tahun. Pada
masa itu anak paling mudah dan senang
menyerap apa saja, dan belajar apa saja tanpa mengenal menyerah.. Keinginan
belajar ini timbul sendiri.
Pada usia 4
tahun, sebenarnya anak telah mencapai separuh kecerdasannya, sampai usia 8
tahun 80%, setelah 8 tahun 20%. Selama 4 tahun pertama perkembangan kecerdasannya, sama baiknya
dengan perkembangan selama 13 tahun
berikutnya..(Joan Beck, 2000 : 24 - 25). Setelah lebih dari 17 tahun,
kecerdasan didapat dengan berbagai cara,
dan dirangsang secara sungguh-sungguh
melalui berbagai pertolongan.
Selain pengaruh kehidupan masa kecil, orang yang
gemar membaca akan memiliki daya ingat yang tajam daripada yang tidak.
Kebiasaan membaca mempengaruhi kerja
otak. Selama kegiatan membaca, otak akan bekerja mengorganisasikan isi wacana,
berupa memahami, menyusun kembali, atau
mendokumentasikannya. Kebiasaan memberdayakan kerja otak seperti bermain
teka-teki silang, bermain catur, cerdas cermat, atau kegiatan yang menggunakan
kerja otak akan turut mengaktifkan ingatan.
Faktor-faktor lain seperti keterampilan
berbahasa, keadaan fisik, mental,
kesehatan, usia, status sosial, keadaan lingkungan, makanan yang dikonsumsi
juga besar pengaruhnya terhadap daya ingat.
Yang
penting adalah bagaimana agar daya ingat yang kita miliki ini tidak memalukan
pemiliknya. Misalnya dengan teman sendiri lupa namanya, akan mandi keliru masuk ruang makan, akan mengambil suatu lupa, sehingga harus kembali
ke tempat semula.
Mendongkrak Daya Ingat yang Ngadat
Persoalan daya ingat ini sangat menjadi
masalah besar terutama bagi para pelajar, karena menyangkut masalah nasib hidup
di masa mendatang. Sangat menyedihkan jika apa yang diajarkan guru yang baru saja disampaikan
berlalu saja tanpa sisa, demikian mudah lenyap tak berbekas dalam ingatan. Tak
ada yang nyangkut di kepala. Memang ada cara memperbaiki daya ingat dengan
bantuan seorang psikolog atau ahli
syaraf, namun biayanya sangat mahal untuk ukuran masyarakat ekonomi lemah. Lalu
apa solusinya?
Banyak
cara yang telah ditawarkan untuk menggugah daya ingat untuk mengingat apa yang
semestinya diingat dalam berbagai keperluan. Dimulai dari menggunakan jembatan
keledai ( keledai dikenal sebagai tokoh binatang yang sangat bodoh), berbagai
akronim dan singkatan, mengurutkan nomor abjad, memberi tanda-tanda khusus, dan
cara lain , yang penting mudah untuk mengingat. Cara tersebut banyak digunakan
orang dan dan sampai sekarang masih berlaku.
Douglas
J. Herrmann dalam bukunya Daya Ingat
Super mengatakan bahwa, “Untuk membantu sistem daya ingat agar
bekerja lebih baik, dengan cara mempertinggi tingkat perhatian dan dengan
membagikan perhatian melalui suatu teknik daya ingat yang disebut
manipulasi. (Douglas J. Herrmann, 1999 : 11).
Apa
yang dikatakan Douglas tersebut dapat dipraktikkan dalam memahami apa yang
sedang dijelaskan guru sehari-hari di kelas. Perhatikan dengan penuh
konsentrasi apa yang akan diingat, lalu
gandakan. Lakukan berulang-ulang. Pengamatan berulang akan memadatkan daya
ingat, daripada sekali mempelajarinya secara mendalam. Perhatian sekilas,
informasi yang kita terima akan
segera lewat dari ingatan kita.
Apabila yang perlu diingat
adalah suatu nama, istilah, informasi
secara tertulis, dengan cara mengamati tulisan itu tajam-tajam sedikitnya satu menit, dan baca
atau sebut pelan-pelan 3 –4 kali dengan
penuh perhatian. Selain menyebutkan berulang-ulang dilihat juga tanda-tanda
khusus yang ada, atau memberi tanda khusus secara imajinatif.
Kalau
yang perlu diingat dua hal atau lebih, maka perlu dibuatkan jembatan penghubung
sesuai ciri masing-masing. Misalnya nama-nama planet, urutan tertentu, suatu
struktur organisasi, urutan kegiatan, atau yang lain. Untuk menghafalkan rumus
dengan membentuk kalimat pendek, frase, kata, atau nama tertentu, yang mudah
diingat. Untuk menghafalkan beberapa nama orang sekaligus, perlu
diasosiasikan dengan ciri khususnya.
Misalnya : Deny – tinggi
semampai, Tatang – hitam manis, Lisa – rambut panjang dan lain-lain.
Bila
kebetulan akan mengingat nama -nama
benda, tempat, suatu peristiwa, biografi tokoh, dapat
dibentuk nyanyian yang diciptakan sendiri atau
kata –kata ritmis, dapat juga dengan permainan kata. Mengahafalkan syair
lagu yang panjang lebih mudah ketimbang menghafalkan 10 baris puisi.
Fiksasi pada Objek
Untuk memperhatikan sesuatu perlu
pemusatan pikiran pada satu titik objek yang akan kita ingat. Hal ini
memerlukan situasi yang tenang tanpa gangguan. Ingatan akan buyar bila ada
gangguan baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Misalnya takut, benci,
marah, sakit, sedih, kecewa, dan lain-lain. Sedang gangguan dari luar misalnya
suara gaduh, adanya keributan, suara radio yang sangat keras, suara kendaraan
dan lain-lain.
Agar yang kita perhatikan
tidak hilang bersama gangguan keparat itu, perlu menetralisasikannya lebih
dahulu, karena kita perlu memfiksasikan atau melekatkan apa yang kita ingat
pada otak kita. Walaupun ada orang dengan tipe distributif, yaitu orang yang
mampu membagi perhatian, seperti sopir, pembajak, pemain sepak bola, atau yang
lain, namun demikian untuk mengingat sesuatu memerlukan perlakuan khusus karena
mengingat sesuatu, tidak hanya butuh perhatian tetapi yang sangat penting adalah
adanya pemusatan pikiran yang hanya bisa dilakukan dengan memfokuskan pada satu
hal saja.
Untuk mengingat sesuatu
perlu berpikir atau mengabstraksikan dan fantasi yaitu mencoba membayangkan
pemecahan suatu soal yang belum pernah dihadapi. Dua hal ini memegang peranan
penting.( Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1968 : 23).
Contoh-contoh
di atas hanyalah sebuah tawaran yang
sifatnya mana suka. Bukan anjuran apalagi pemaksaan. Orang pasti memiliki cara
tersendiri untuk mengatasi masalah daya ingat masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
Beck,
Joan, 2000. Meningkatkan Kecerdasan Anak.
Jakarta : Pustaka Delapratasa.
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. 1968. Psikologi
III. Djakarta
Herrmann,
Douglas J. 1999. Daya Ingat Super (
Program Kilat Penyempurnaan Daya Ingat). Jakarta : Pustaka Delapratasa.
Imam
Barnadid, Sutari. Prof. Dr. 1995.
Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta : Andi Offset.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar