Raja Abdulah sangat prihatin, karena kedua
putranya sangat bodoh. Beberapa guru besar istana sudah diminta untuk
mendidiknya. Namun demikian, sampai usia dua belas tahun belum ada yang
berhasil mendidik kedua putra raja. Para guru
besar istana sebenarnya sudah merasa bekerja
keras melaksanakan tugas baginda, namun tidak berhasil.
“Ampun, Tuanku. Hamba tidak bisa mendidik putra Baginda.”
Raja Abdulah sangat sedih. Tidak mungkin
kerajaan yang subur makmur itu
diserahkan kepada kedua putranya atau salah satu dari mereka.
“Hamba menghaturkan sembah, tuanku.
Bagaimana kalau kedua putra baginda belajar di luar istana.?” kata penasihat
raja.
“Maksud Paman bagaimana?”
“Biarkan pangeran mencari guru diluar istana, barangkali
lebih baik begitu.”
Berhari-hari baginda tidak bisa tidur,
memikirkan usulan penasihat raja beberapa waktu yang lalu. Tak sampai hati
baginda untuk melepaskan kedua putra kesayangannya. Tetapi kalau kerajaan
diserahkan kepada putranya yang belum
memiliki ilmu yang cukup, tentu lebih berbahaya. Maka diputuskannya untuk
memerintahkan putranya untuk mencari guru diluar istana.
“ Anak-anakku, kalian tidak mungkin bisa diangkat menjadi raja
menggantikanku. Kemampuan kalian terlalu rendah. Pada hal sebagai calon raja
harus memiliki berbagai ilmu pengetahuan, ilmu perang, dan memiliki jiwa
kepemimpinan,” sabda baginda.
Kedua putra raja itu, pangeran Sidiq dan pangeran Yuan hanya diam. Kedua
pangeran itu merasa, bahwa para guru besar mereka tidak pernah memberi ilmu
pengetahuan apa-apa. Tiap hari hanya mengajak mereka bermain saja. Tetapi kedua
pangeran itu tak tega melaporkan guru besar yang kurang bertanggung jawab
mendidik mereka. Bagaimana pun ada ilmu yang dapat diambilnya.
“ Mulai besok pagi, kalian harus keluar istana ….” suara baginda bergema.
Kedua pangeran menjadi sangat takut. Dan muka mereka pucat pasi. Mereka
tak menyangka kalau mereka akan diusir
dari istana secepat itu.
“Kami tak berani Ayahanda,” memandang guru besarnya.
“Carilah guru di luar istana, guru besar istana tidak mampu mendidik
kalian. Kembalilah tahun depan, pada
tanggal dan bulan yang sama
dengan hari ini!”
“Kau! Para guru besar istana, tunggulah
setahun lagi. Kedua putraku akan menentukan nasib kalian, mungkin putraku memenjarakan atau memenggal leher
kalian.” Baginda meninggalkan
persidangan.
Pangeran Sidiq dan pangeran Yuan tak berdiri dari tempat duduknya. Mereka
sedih sekali. Semua meninggalkan balai persidangan. Para
guru besar yang pengecut itu pun tak tampak batang hidungnya. Maka mendekatlah
penasihat raja yang telah memberi saran kepada baginda.
“Berangkatlah pangeran. Nasib rakyat dan kerajaan di tangan paduka.
Jangan takut, Tuhan bersama Tuan. Mintalah petunjuk-Nya.”
“Kami tak sanggup, Paman.”
“Tuan pasti bisa. Baginda Raja Abdullah adalah raja yang pemberani,
cerdas dan bijaksana. Tuan adalah putranya. Belajarlah agar bisa mewarisi semua
kemampuan Baginda.” Kata-kata penasihat raja lembut tetapi tegas.
Pagi harinya, setelah minta doa restu kepada baginda dan permaisuri,
mereka berangkat, tanpa pengawal. Mereka menyamar sebagai rakyat biasa. mereka
berjalan sangat jauh dari kerajaan.
“Kanda kita cari guru bersama-sama,” kata pangeran Yuan.
“Tidak! Aku ke arah sana, Dinda ke arah sana.” Dengan menunjuk arah yang berlawanan. Mereka
berpelukan dan berpisah untuk mencari guru.
Dalam perjalanan kedua pangeran itu mengalami berbagai kesulitan.
Kelaparan, kehausan, kelelahan tak dipikirkannya. Tekadnya hanya satu, mencari
guru untuk belajar. Hutan yang lebat, padang
luas, tebing yang curam telah dilalui. Akhirnya para pangeran menemukan guru
yang dicarinya.
Pangeran Sidiq berguru kepada seorang guru agama yang sangat terkenal.
Pangeran belajar tentang ilmu agama, ketakwaan, dalil-dalil agama, sejarah, kewajiban
manusia terhadap Tuhan, kewajiban manusia terhadap manusia lain., tentang budi
pekerti, dan kepemimpinan. Siang malam pangeran Sidiq belajar tak henti-henti.
Gurunya sangat ketat mendidiknya.
Selain itu pangeran Sidiq diajari pula tentang hidup sederhana, supaya
bisa merasakan kehidupan rakyat miskin. Pangeran harus membelah kayu bakar,
mengambil air ke sumber air yang sangat jauh. Selain itu pangeran diharuskan
puasa Senin dan Kamis.
Dalam waktu singkat pangeran Sidiq sudah ahli dalam bidang keagamaan dan
kepemimpinan. Namun demikian pangeran Sidiq tak pernah memberi tahukan dia
adalah putra Raja Abdulah yang dihormati dan dicintai rakyatnya.
Sedangkan pangeran Yuan mendapat guru yang ahli dalam perang. Pangeran
belajar teknik menggunakan senjata. Pangeran belajar menggunakan pedang,
menggunakan tombak dan panah, dengan jalan kaki atau naik kuda. Gurunya juga
mengajarkan siasat perang, mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih banyak atau
lebih lengkap persenjataannya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pangeran
Yuan sudah menguasai strategi perang yang luar biasa.
Pada tanggal dan bulan yang sudah
ditentukan, mereka bertemu kembali, di tempat mereka berpisah tahun
lalu. Mereka berpelukan dan bertangisan. Tak lama kemudian berjalan beriringan menuju
istana, sambil menceritakan pengalaman masing-masing. Guru mereka ikut serta.
Mereka berempat menghadap baginda. Kedua pangeran itu sudah bertambah dewasa,
gagah dan tampan. Sampai di pintu kota
para guru mereka terkejut. Mereka tahu ke mana arah yang dituju muridnya itu.
Mereka baru tahu siapa yang dididiknya selama itu. Mereka langsung menghaturkan
sembah dan mohon ampunan atas perlakuannya selama pangeran menjadi muridnya.
Kedua pangeran memaafkan mereka.
Sampailah rombongan putra raja tersebut di istana. Kedatangan mereka berempat disambut dengan suka cita
oleh keluarga kerajaan.
Esok harinya, teratak untuk
pemilihan calon raja sudah dihiasi dengan janur kuning, rumbai-rumbai, dan
bunga-bunga warna-warni. Hari itu akan
ditentukan siapa dari dua pangeran itu yang berhak menjadi raja. Rakyat
diundang dari seluruh negeri. Rakyat harus tahu siapa calon raja pengganti
baginda raja Abdulah.
Tak lama kemudian kedua pangeran duduk berdampingan dengan para gurunya. Baginda raja Abdulah, permaisuri, penasihat
raja dan para punggawa kerajaan duduk di anjungan bersama para putri.
“ Sekarang, tunjukkan hasil belajarmu selama satu tahun kalian di
hadapanku dan hadapan rakyat. Pangeran Sidiq tunjukkan keahlianmu!” raja Abdulah
duduk kembali.
Suara tepuk tangan dan sorak sorai bergema. Raja dan permaisuri
tersenyum. Pangeran Sidik dengan jubah
berwarna putih dan surban putih, didampingi gurunya Syeh Maulana yang juga
memakai jubah putih, mendekati meja beralaskan kain sutera warna hijau berenda
putih. Di atasnya terdapat kitab suci yang diletakkan di sebuah nampan yang
terbuat dari emas. Pangeran Sidiq memberi hormat baginda dan permaisuri, lalu
duduk bersimpuh.
Maka terdengarlah lantunan bacaan kitab suci dengan suara yang sangat
merdu. Tak ada suara tepuk tangan tak ada sorak. Tak lama kemudian pangeran
berdakwah, sesuai petunjuk gurunya.
Setelah selesai, terdengar gegap gempita suara sorak sorai lagi. Rakyat
bangga memiliki calon raja yang santun dan berwibawa.
“ Tunjukkan kehebatanmu pangeran Yuan!”
perintah baginda.
Dengan pakaian keprajuritan, pangeran Yuan, dan gurunya Syeh Haidar,
menghadap baginda dan permaisuri, lalu memberi hormat. Mereka berdua
menunjukkan atraksi perang dengan berbagai jurus. Pangeran Yuan dan gurunya
sama ahlinya memainkan senjata. Main pedang, main panah, dan lembing sudah
dilaksanakan dengan sempurna. Sorak dan tepuk tangan tak henti-hentinya.
Suasana menjadi hening setelah baginda raja dan permaisuri berdiri. Semua
menanti keputusan baginda. Tak ada yang menjagokan di antara dua pangeran.
Semua hebat dan mengagumkan. Semua berdebar-debar.
“Dengarlah, wahai rakyatku! Kalian telah melihat bahwa kedua putraku telah
menunjukkan keahlian masing-masing di hadapan kalian dengan sangat memuaskan.”
“Hidup pangeran Sidiq, hidup pangeran Yuan,” Rakyat berteriak.
Maka dari itu kerajaan ini akan aku bagi dua, untuk kedua putraku.” Raja
diam sejenak. Tampak ada keharuan di wajah baginda. Putranya yang dahulu bodoh
sudah berubah menjadi sangat hebat.
“Hidup Baginda Raja Abdulah. Hidup raja yang bijaksana.”
Rakyat gembira dan puas dengan keputusan baginda.
Kedua guru yang telah berhasil mendidik putra baginda dipanggil ke istana.
Baginda mengucapkan terima kasih. Para guru
diminta tinggal di istana, dan diberi tempat tinggal yang layak. Atas permintaan
kedua pangeran itu para guru besar istana yang tidak mampu mendidik mereka, dikeluarkan
dari penjara.
“ Syeh Maulana, didiklah putraku, Pangeran Yuan dengan ilmu agama seperti
yang kau ajarkan kepada anakku, Pangeran Sidiq,” menunjuk Syeh Maulana.
“Baik, Baginda.”
“ Syeh Haidar, didiklah putraku Pangeran Sidiq dengan ilmu perang yang
kau ajarkan kepada anakku pangeran Yuan.” menunjuk Syeh Haidar.
“Baik, Baginda.”
“ Dan … kalian wahai para guru besar istana, ….”
Guru besar istana tidak berani mengangkat muka. Mereka sangat takut.
Mereka memastikan akan mendapat murka, karena tidak bisa mendidik putra
baginda.
“Belajarlah kepada mereka,” lanjut baginda. “Semua ini atas permintaan
kedua putraku, yang bijaksana.”
“Bbbaiiik, Baginda.” Dengan
perasaan lega mereka menjawab dengan serempak.
“Terima kasih pangeran….” tertuduk malu.
Sejak saat itu kedua guru yang telah berhasil mendidik putra baginda itu
tinggal di kerajaan bersama para guru besar istana. Kerajaan yang telah dibagi dua semakin
makmur, karena dipimpin oleh dua raja yang cerdas, bijaksana dan pandai
berperang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar