Rabu, 08 April 2015

RAJA ABDULAH YANG BIJAKSANA



Raja Abdulah sangat prihatin, karena kedua putranya sangat bodoh. Beberapa guru besar istana sudah diminta untuk mendidiknya. Namun demikian, sampai usia dua belas tahun belum ada yang berhasil mendidik kedua putra raja. Para guru besar istana sebenarnya sudah  merasa bekerja keras melaksanakan tugas baginda, namun tidak berhasil.
“Ampun, Tuanku. Hamba tidak bisa mendidik putra Baginda.”
Raja Abdulah sangat sedih. Tidak mungkin kerajaan  yang subur makmur itu diserahkan kepada kedua putranya atau salah satu dari mereka.
“Hamba menghaturkan sembah, tuanku. Bagaimana kalau kedua putra baginda belajar di luar istana.?” kata penasihat raja.
“Maksud Paman bagaimana?”
“Biarkan pangeran mencari guru diluar istana, barangkali lebih baik begitu.”
Berhari-hari baginda tidak bisa tidur, memikirkan usulan penasihat raja beberapa waktu yang lalu. Tak sampai hati baginda untuk melepaskan kedua putra kesayangannya. Tetapi kalau kerajaan diserahkan kepada putranya  yang belum memiliki ilmu yang cukup, tentu lebih berbahaya. Maka diputuskannya untuk memerintahkan putranya untuk mencari guru diluar istana. 
“ Anak-anakku, kalian tidak mungkin bisa diangkat menjadi raja menggantikanku. Kemampuan kalian terlalu rendah. Pada hal sebagai calon raja harus memiliki berbagai ilmu pengetahuan, ilmu perang, dan memiliki jiwa kepemimpinan,”  sabda  baginda.
Kedua putra raja itu, pangeran Sidiq dan pangeran Yuan hanya diam. Kedua pangeran itu merasa, bahwa para guru besar mereka tidak pernah memberi ilmu pengetahuan apa-apa. Tiap hari hanya mengajak mereka bermain saja. Tetapi kedua pangeran itu tak tega melaporkan guru besar yang kurang bertanggung jawab mendidik mereka. Bagaimana pun ada ilmu yang dapat diambilnya. 
“ Mulai besok pagi, kalian harus keluar istana  ….” suara baginda bergema.
Kedua pangeran menjadi sangat takut. Dan muka mereka pucat pasi. Mereka tak menyangka kalau mereka  akan diusir dari istana secepat itu.
“Kami tak berani Ayahanda,” memandang guru besarnya.
“Carilah guru di luar istana, guru besar istana tidak mampu mendidik kalian. Kembalilah tahun depan, pada  tanggal dan bulan yang sama  dengan hari ini!”
“Kau! Para guru besar istana, tunggulah setahun lagi. Kedua putraku akan menentukan nasib kalian, mungkin  putraku memenjarakan atau memenggal leher kalian.” Baginda  meninggalkan persidangan.
Pangeran Sidiq dan pangeran Yuan tak berdiri dari tempat duduknya. Mereka sedih sekali. Semua meninggalkan balai persidangan. Para guru besar yang pengecut itu pun tak tampak batang hidungnya. Maka mendekatlah penasihat raja yang telah memberi saran  kepada baginda.
“Berangkatlah pangeran. Nasib rakyat dan kerajaan di tangan paduka. Jangan takut, Tuhan bersama Tuan. Mintalah petunjuk-Nya.”
“Kami tak sanggup, Paman.”
“Tuan pasti bisa. Baginda Raja Abdullah adalah raja yang pemberani, cerdas dan bijaksana. Tuan adalah putranya. Belajarlah agar bisa mewarisi semua kemampuan Baginda.” Kata-kata penasihat raja lembut tetapi tegas.
Pagi harinya, setelah minta doa restu kepada baginda dan permaisuri, mereka berangkat, tanpa pengawal. Mereka menyamar sebagai rakyat biasa. mereka berjalan sangat jauh dari kerajaan.
“Kanda kita cari guru bersama-sama,” kata pangeran Yuan.
“Tidak! Aku ke arah sana,  Dinda ke arah sana.” Dengan menunjuk arah yang berlawanan. Mereka berpelukan dan berpisah untuk mencari guru.
Dalam perjalanan kedua pangeran itu mengalami berbagai kesulitan. Kelaparan, kehausan, kelelahan tak dipikirkannya. Tekadnya hanya satu, mencari guru untuk belajar. Hutan yang lebat, padang luas, tebing yang curam telah dilalui. Akhirnya para pangeran menemukan guru yang dicarinya.
Pangeran Sidiq berguru kepada seorang guru agama yang sangat terkenal. Pangeran belajar tentang ilmu agama, ketakwaan, dalil-dalil agama, sejarah, kewajiban manusia terhadap Tuhan, kewajiban manusia terhadap manusia lain., tentang budi pekerti, dan kepemimpinan. Siang malam pangeran Sidiq belajar tak henti-henti. Gurunya sangat ketat mendidiknya.
Selain itu pangeran Sidiq diajari pula tentang hidup sederhana, supaya bisa merasakan kehidupan rakyat miskin. Pangeran harus membelah kayu bakar, mengambil air ke sumber air yang sangat jauh. Selain itu pangeran diharuskan puasa Senin dan Kamis.
Dalam waktu singkat pangeran Sidiq sudah ahli dalam bidang keagamaan dan kepemimpinan. Namun demikian pangeran Sidiq tak pernah memberi tahukan dia adalah putra Raja Abdulah yang dihormati dan dicintai rakyatnya.
Sedangkan pangeran Yuan mendapat guru yang ahli dalam perang. Pangeran belajar teknik menggunakan senjata. Pangeran belajar menggunakan pedang, menggunakan tombak dan panah, dengan jalan kaki atau naik kuda. Gurunya juga mengajarkan siasat perang, mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih banyak atau lebih lengkap persenjataannya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pangeran Yuan sudah menguasai strategi perang yang luar biasa.
Pada tanggal dan bulan yang sudah  ditentukan, mereka bertemu kembali, di tempat mereka berpisah tahun lalu. Mereka berpelukan dan bertangisan. Tak lama kemudian berjalan beriringan menuju istana, sambil menceritakan pengalaman masing-masing. Guru mereka ikut serta. Mereka berempat menghadap baginda. Kedua pangeran itu sudah bertambah dewasa, gagah dan tampan. Sampai di pintu kota para guru mereka terkejut. Mereka tahu ke mana arah yang dituju muridnya itu. Mereka baru tahu siapa yang dididiknya selama itu. Mereka langsung menghaturkan sembah dan mohon ampunan atas perlakuannya selama pangeran menjadi muridnya. Kedua pangeran memaafkan mereka.
Sampailah rombongan putra raja tersebut di istana. Kedatangan  mereka berempat disambut dengan suka cita oleh keluarga kerajaan.
Esok  harinya, teratak untuk pemilihan calon raja sudah dihiasi dengan janur kuning, rumbai-rumbai, dan bunga-bunga warna-warni.  Hari itu akan ditentukan siapa dari dua pangeran itu yang berhak menjadi raja. Rakyat diundang dari seluruh negeri. Rakyat harus tahu siapa calon raja pengganti baginda raja Abdulah. 
Tak lama kemudian kedua pangeran duduk berdampingan dengan para gurunya.  Baginda raja Abdulah, permaisuri, penasihat raja dan para punggawa kerajaan duduk di anjungan bersama para putri.
“ Sekarang, tunjukkan hasil belajarmu selama satu tahun kalian di hadapanku dan hadapan rakyat. Pangeran Sidiq tunjukkan keahlianmu!” raja Abdulah duduk kembali.
Suara tepuk tangan dan sorak sorai bergema. Raja dan permaisuri tersenyum. Pangeran  Sidik dengan jubah berwarna putih dan surban putih, didampingi gurunya Syeh Maulana yang juga memakai jubah putih, mendekati meja beralaskan kain sutera warna hijau berenda putih. Di atasnya terdapat kitab suci yang diletakkan di sebuah nampan yang terbuat dari emas. Pangeran Sidiq memberi hormat baginda dan permaisuri, lalu duduk bersimpuh.
Maka terdengarlah lantunan bacaan kitab suci dengan suara yang sangat merdu. Tak ada suara tepuk tangan tak ada sorak. Tak lama kemudian pangeran berdakwah, sesuai petunjuk gurunya.
Setelah selesai, terdengar gegap gempita suara sorak sorai lagi. Rakyat bangga memiliki calon raja yang santun dan berwibawa.
“ Tunjukkan kehebatanmu pangeran Yuan!”  perintah baginda.
Dengan pakaian keprajuritan, pangeran Yuan, dan gurunya Syeh Haidar, menghadap baginda dan permaisuri, lalu memberi hormat. Mereka berdua menunjukkan atraksi perang dengan berbagai jurus. Pangeran Yuan dan gurunya sama ahlinya memainkan senjata. Main pedang, main panah, dan lembing sudah dilaksanakan dengan sempurna. Sorak dan tepuk tangan tak henti-hentinya.
Suasana menjadi hening setelah baginda raja dan permaisuri berdiri. Semua menanti keputusan baginda. Tak ada yang menjagokan di antara dua pangeran. Semua hebat dan mengagumkan. Semua berdebar-debar.
“Dengarlah, wahai rakyatku! Kalian telah melihat bahwa kedua putraku telah menunjukkan keahlian masing-masing di hadapan kalian dengan sangat memuaskan.”
“Hidup pangeran Sidiq, hidup pangeran Yuan,” Rakyat berteriak.
Maka dari itu kerajaan ini akan aku bagi dua, untuk kedua putraku.” Raja diam sejenak. Tampak ada keharuan di wajah baginda. Putranya yang dahulu bodoh sudah berubah menjadi sangat hebat.
“Hidup Baginda Raja Abdulah. Hidup raja yang bijaksana.” 
Rakyat gembira dan puas dengan keputusan baginda.
Kedua guru yang telah berhasil mendidik putra baginda dipanggil ke istana. Baginda mengucapkan terima kasih. Para guru diminta tinggal di istana, dan diberi tempat tinggal yang layak. Atas permintaan kedua pangeran itu para guru besar istana yang tidak mampu mendidik mereka, dikeluarkan dari penjara.
“ Syeh Maulana, didiklah putraku, Pangeran Yuan dengan ilmu agama seperti yang kau ajarkan kepada anakku, Pangeran Sidiq,” menunjuk Syeh Maulana.
“Baik, Baginda.”
“ Syeh Haidar, didiklah putraku Pangeran Sidiq dengan ilmu perang yang kau ajarkan kepada anakku pangeran Yuan.” menunjuk Syeh Haidar.
“Baik, Baginda.”
“ Dan … kalian wahai para guru besar istana, ….” 
Guru besar istana tidak berani mengangkat muka. Mereka sangat takut. Mereka memastikan akan mendapat murka, karena tidak bisa mendidik putra baginda.
“Belajarlah kepada mereka,” lanjut baginda. “Semua ini atas permintaan kedua putraku, yang bijaksana.”
“Bbbaiiik, Baginda.” Dengan  perasaan lega mereka menjawab dengan serempak.
“Terima kasih pangeran….” tertuduk malu.
Sejak saat itu kedua guru yang telah berhasil mendidik putra baginda itu tinggal di kerajaan bersama para guru besar istana.  Kerajaan yang telah dibagi dua semakin makmur, karena dipimpin oleh dua raja yang cerdas, bijaksana dan pandai berperang.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar